INAnews.co.id, Jakarta– Tekanan fiskal Indonesia pada triwulan I 2026 jauh lebih berat dibanding periode yang sama tahun lalu. Defisit anggaran telah mencapai sekitar Rp240 triliun atau 0,93 persen PDB, sementara sisa kas negara hanya tinggal sekitar Rp17 triliun, merosot drastis dari lebih dari Rp100 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Peneliti INDEF, Riza Annisa Pujarama, mengungkapkan bahwa keseimbangan primer negara juga mencatatkan angka negatif yang cukup dalam, menandakan Indonesia harus berhutang kembali hanya untuk membayar bunga utang yang sudah ada. “Ini berarti kita tidak bisa membayar bunga utang tanpa berhutang lagi,” ujarnya dalam diskusi publik INDEF, Senin (11/5/2026).
Lonjakan belanja didorong oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG), belanja pegawai, bantuan sosial, subsidi energi, dan pembayaran bunga utang yang total kewajiban utang dan bunganya telah melampaui Rp1.400 triliun pada tahun ini. Di sisi lain, pendapatan negara belum mampu mengimbangi laju pengeluaran tersebut.
Riza memperingatkan bahwa dorongan pertumbuhan dari faktor musiman, tiga hari raya besar yang bertepatan di triwulan I, tidak akan berulang di triwulan II dan III. Sementara ruang fiskal yang kian sempit membatasi kemampuan pemerintah untuk kembali mendorong pertumbuhan melalui belanja. Ia menyerukan agar pemerintah menjaga disiplin fiskal, meninjau ulang prioritas belanja, dan menghindari pemangkasan anggaran yang kembali membebani daerah. Sektor manufaktur juga dinilai kian tertekan akibat ketergantungan pada impor bahan baku yang harganya melonjak seiring pelemahan rupiah dan dampak geopolitik global.






