INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom senior Ferry Latuhihin menegaskan pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS merupakan cerminan nyata dari fondasi ekonomi Indonesia yang rapuh, bukan sekadar sentimen pasar seperti yang diklaim pejabat pemerintah.
“Mata uang mencerminkan fundamental. Melemahnya rupiah membuktikan fundamental ekonomi kita reot, itu tidak bisa dibohongi,” ujar Ferry dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad, Kamis (14/5/2026).
Ferry menilai klaim Kepala BKF Kemenkeu, yang dalam naskah disebut sebagai “Purbaya”, bahwa ekonomi Indonesia masih berpondasi kuat, hanya bisa dikonsumsi oleh Presiden, bukan oleh pasar. Ia menunjukkan data bahwa defisit APBN kuartal pertama telah mencapai Rp240 triliun atau 0,93 persen dari PDB, yang jika diproyeksikan secara tahunan sudah melampaui batas 3 persen yakni 3,72 persen.
Kondisi ini, menurut Ferry, berpotensi memicu penurunan peringkat utang Indonesia oleh lembaga seperti Moody’s dan Fitch dari investment grade menjadi non-investment grade, yang bisa mendorong dolar menembus Rp20.000 hingga Rp22.000.
Capital outflow asing sepanjang tahun berjalan sudah melampaui Rp60 triliun, sementara cadangan devisa tergerus dari 155 miliar dolar AS menjadi 146 miliar dolar AS. Ferry juga mencatat ancaman serangan spekulatif terhadap rupiah seperti yang pernah terjadi pada krisis 1998.






