INAnews.co.id, Jakarta– Di tengah derasnya data makroekonomi, realitas masyarakat bawah berbicara lebih keras. Survei nasional yang dilakukan Litbang Kompas pada April 2026 terhadap 1.200 responden mengungkap potret pahit: 56 persen responden menilai kondisi ekonomi bangsa saat ini buruk atau sangat buruk, sementara hampir 60 persen mengaku belum siap menghadapi situasi ekonomi yang semakin memburuk karena tidak memiliki dana darurat maupun tabungan.
Peneliti Litbang Kompas Budiawan Sidik Arifianto memaparkan temuan ini dalam forum Indonesia Leaders Talk (ILT), Sabtu (30/5/2026). Dalam survei tersebut, sekitar 43 persen responden menyatakan penghasilan mereka hanya cukup pas-pasan atau bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tiga bulan terakhir.
“Kondisi masyarakat cenderung berada dalam kondisi yang ekonominya relatif tidak sedang baik-baik saja,” ujar Budiawan. Ia menambahkan bahwa 78 persen responden menyatakan sulit mendapatkan pekerjaan di wilayah mereka.
Budiawan juga menyoroti paradoks data pangan: meskipun pemerintah mengklaim surplus beras, data BPS justru menunjukkan harga beras baik kelas premium maupun medium terus meningkat di berbagai tingkat penggilingan. “Surplus beras yang harusnya bisa menekan harga menjadi lebih terjangkau, nyatanya justru meningkat di level dasar,” katanya.
Temuan ini, menurut Budiawan, menunjukkan bahwa program-program populis pemerintah belum optimal menyentuh lapisan terbawah. Ia mendorong pemerintah agar legowo mengevaluasi program-program yang mendapat respons negatif dari publik, terutama di tengah tekanan global yang datang bersamaan.






