INAnews.co.id, Jakarta– Penyusutan kelas menengah Indonesia menjadi alarm serius bagi perekonomian nasional. Prof. Nur Hidayah, Kepala Center for Syariah Economic Development INDEF, mencatat data BPS menunjukkan kelas menengah turun dari 57,3 juta menjadi 47,9 juta orang dalam lima tahun terakhir, menyusut sekitar 10 juta jiwa.
“Mereka sesungguhnya tidak menjadi miskin, tapi mereka mulai kehilangan rasa aman ekonomi. Inilah yang saya sebut sebagai Indonesia mengalami era economic insecurity,” ujar Nur Hidayah dalam Diskusi Publik INDEF, Ahad (14/6/2026).
Ia menilai tekanan terhadap Indonesia di pasar keuangan lebih berat dibanding negara ASEAN lain bukan semata karena faktor global, melainkan karena pasar mempertanyakan kepastian arah pembangunan, konsistensi kebijakan, dan kualitas institusi.
Kelas menengah menyumbang sekitar 80 persen konsumsi nasional. Jika kelompok ini terus melemah, kata Nur Hidayah, mesin utama ekonomi Indonesia akan kehilangan bahan bakarnya.






