INAnews.co.id, Jakarta– Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini disebut tulang punggung ekonomi, menyumbang 59,64 persen terhadap PDB, kini menghadapi tekanan berlapis yang kian mengancam keberlangsungan usaha mereka.
Nur Komaria, peneliti Center of Digital Economy and SME INDEF, memaparkan bahwa kenaikan BBM non-subsidi memukul sisi operasional, distribusi, dan pelayanan UMKM sekaligus. Sektor paling terdampak antara lain jasa kurir, kuliner, dan ritel kecil yang sangat bergantung pada mobilitas harian.
Di sisi pembiayaan, kondisi juga memburuk. Porsi kredit perbankan untuk UMKM turun dari 22 persen pada 2021 menjadi 17,5 persen pada 2025, sementara NPL UMKM meningkat melampaui rata-rata NPL total perbankan.
“Margin yang mereka dapatkan semakin kecil. Kemampuan untuk ekspansi bisa berkurang,” kata Nur dalam Diskusi Publik INDEF, Ahad (14/6/2026).
Ia menekankan keberlanjutan UMKM membutuhkan ekosistem terintegrasi yang mencakup pembiayaan, logistik, pencatatan keuangan, dan penguatan kapasitas usaha.






