INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia menyimpan ironi besar: meski kaya sumber daya alam dan tengah menggenjot program hilirisasi, industri dalam negeri masih sangat bergantung pada impor bahan baku. Impor bahan baku dan penolong konsisten menjadi komponen terbesar dalam struktur impor nasional.
Ahmad Heri Firdaus menyebut ketergantungan ini sebagai kerentanan struktural yang serius. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku melonjak, mendorong kenaikan biaya produksi, harga jual, dan pada akhirnya menggerus daya saing industri.
Contoh paling mencolok adalah jagung pipil untuk industri pemanis buatan dan garam untuk industri pangan. Meski Indonesia pernah swasembada jagung dan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, pabrik-pabrik masih mengimpor kedua komoditas tersebut. Penyebabnya bukan soal kuantitas, melainkan kualitas dan standar spesifikasi yang tidak terpenuhi akibat minimnya penerapan teknologi pascapanen.
“Keterkaitan dari hulu ke hilir masih belum kuat. Hilirisasi saja tidak cukup—yang dibutuhkan adalah industrialisasi secara menyeluruh,” tegas Heri dalam tayangan kanal INDEF, Rabu (17/6/2026). Ia mendorong pengembangan lembaga agregator yang mampu mengolah hasil pertanian agar memenuhi standar industri, memangkas rantai pasok yang panjang sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.






