INANews.co.id, Jakarta– Setelah 72 bulan berturut-turut (sekitar enam tahun) mencatat surplus, neraca perdagangan Indonesia pada Juni justru terjun ke zona defisit sebesar 1,62 miliar dolar AS. “Ini juga berita yang sangat buruk untuk ekonomi kita,” kata Ferry Latuhihin dalam video di kanal YouTube pribadinya, Kamis (2/7/2026), yang menyebut angka ini sebagai sinyal awal potensi kontraksi ekonomi di semester kedua tahun ini.
Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal pertama kemungkinan tidak akan terulang, dan tren pertumbuhan ke depan diperkirakan berada jauh di bawah 5 persen.
Faktor pemicu sementara defisit ini diduga terkait lonjakan harga minyak akibat konflik Iran-AS, mengingat Indonesia masih berstatus importir minyak. Meski harga minyak kini sudah melandai ke kisaran 70 dolar per barel, Ferry tetap mewaspadai risiko PHK yang terus berguling akibat lemahnya prospek ekonomi domestik.






