Menu

Mode Gelap
Pameran Kebencanaan EDRR Indonesia 2026 Digelar di JIExpo, Hadirkan Solusi Mitigasi Global Alumni dan Guru Bagikan Cara Tumbuhkan Budaya Demokrasi Golput dan Akses Sekolah di Diskusi Demokrasi Mendikdasmen: Demokrasi Bukan Sekadar Pemilu Semata Rekonstruksi Kasus Mutilasi di Depok Digelar, Polisi Ungkap Fakta Baru Newport Minta Maaf soal Insiden di Festival The Sounds Project

PENDIDIKAN

Alumni dan Guru Bagikan Cara Tumbuhkan Budaya Demokrasi

badge-check


					Foto: ilustrasi (AI) Perbesar

Foto: ilustrasi (AI)

INAnews.co.id, Jakarta- Sejumlah alumni dan pegiat Akademi Demokrasi Perludem berbagi pengalaman mereka menumbuhkan budaya demokratis di lingkungan sekolah dan kampus, dalam sesi diskusi panel Seminar Nasional Pendidikan Demokrasi, Jumat (7/8/2026). Diskusi yang dipandu peneliti Perludem, Iqbal Kholidin, itu menghadirkan empat narasumber: peneliti Perludem Usep Hasan Sadikin, guru sejarah SMA Negeri 11 Kota Bekasi Tio Prakoso, mahasiswi Syafira Sugianto, dan siswi kelas 12 Rania Amira Dewi Utomo.

Usep Hasan Sadikin menjelaskan bahwa Akademi Demokrasi lahir dari keprihatinan atas indeks demokrasi Indonesia yang terus menurun. “Kita ngelihat indeks demokrasi Indonesia itu turun terus, bahkan sudah selisih belasan poin. Sekarang kita berada di posisi flawed democracy, atau demokrasi yang cacat,” katanya.

Ia menilai pendekatan pendidikan pemilih (voter education) yang selama ini lazim dilakukan sudah terlambat karena hanya bekerja menjelang pemilu. “Demokrasi itu kan bukan hal yang lima tahun sekali. Prinsip-prinsip tentang kesetaraan, kebebasan, dan sebagainya kan ada di keseharian,” ujarnya.

Sementara itu, Tio Prakoso menyoroti pentingnya menghadirkan pengalaman demokratis di ruang kelas, bukan sekadar mengajarkannya sebagai teori. “Jika sekolah atau ruang kelas itu efektif sebagai ruang demokratis, kayaknya Indonesia akan baik-baik saja,” katanya.

Ia mencontohkan praktik di sekolahnya yang menyusun rancangan aturan organisasi siswa secara partisipatif bersama para siswa, lengkap dengan komisi pemilihan umum (KPU) independen untuk pemilihan ketua OSIS. “Bagaimana model pemilu di negara kita, kami terapkan di sekolah,” ujarnya.

Dari sudut pandang siswa, Rania Amira Dewi Utomo mengaku lingkungan sekolahnya belum sepenuhnya demokratis. “Kalau saya deskripsikan, ruang sekolah saya seperti hewan amfibi, kadang demokratis kadang tidak,” ujarnya, sembari mencontohkan kasus penurunan nilai sepihak terhadap siswa yang memberi evaluasi jujur atas kinerja gurunya.

Ia pun menggagas program Budi Mulia Democracy Fellowship untuk menanamkan pemahaman demokrasi kepada siswa kelas 10. “Rasa aman itu menurut saya yang paling penting. Ketika rasa aman direnggut dari mereka, mereka berhenti untuk berdemokrasi,” katanya.

Adapun Syafira Sugianto berbagi pengalamannya menggagas simulasi demokrasi digital bagi 40 pelajar SMA di Kabupaten Tangerang. “Kita coba cek dulu faktanya seperti apa, jangan langsung dibagikan,” ujarnya, menjelaskan metode prebunking dan debunking yang diajarkannya kepada peserta untuk melawan disinformasi.

Di akhir sesi, keempat narasumber diminta menyebut satu kata yang menggambarkan harapan mereka terhadap demokrasi Indonesia: partisipasi, akuntabilitas, luas, dan bebas serta bermakna.

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Mendorong Anak Muda Perkuat Pendidikan STEM

5 Agustus 2026 - 16:59 WIB

Mengawal RUU Sisdiknas

3 Agustus 2026 - 15:06 WIB

Orang Tua Terlalu Sibuk, Anak Jadi Sekadar “Dititipkan” ke Sekolah

27 Juli 2026 - 19:24 WIB

Populer PENDIDIKAN