INAnews.co.id, Jakarta– Gita Wirjawan mendorong generasi muda Indonesia untuk lebih banyak menekuni bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) guna mendongkrak daya saing bangsa di rantai nilai global.
Ia membandingkan porsi mahasiswa yang menekuni STEM di sejumlah negara Asia Tenggara: Tiongkok dan Malaysia sekitar 43,5 persen, Singapura 36 persen, sementara Indonesia baru sekitar 22 persen.
“Gua bukan mau jualan STEM di sini, tapi kalau kita mau merangkak di rantai nilai, kita harus bisa meningkatkan nilai. Untuk itu kita enggak bisa enggak belajar STEM,” ujarnya, saat menjadi bintang tamu di kanal YouTube Helmy Yahya, Senin (3/8/2026).
Menurut Gita, kemampuan berpikir kuantitatif ala STEM memudahkan seseorang atau suatu bangsa mengubah ketidakpastian menjadi risiko yang bisa diukur dan diberi peringkat, sebuah faktor penting untuk menarik investasi asing.
Ia mencontohkan skenario investor yang ingin membangun pabrik di daerah dengan risiko pemadaman listrik. Jika risiko itu bisa dikuantifikasi secara meyakinkan, investor akan lebih percaya diri menanamkan modalnya dibanding jika hanya mendapat jaminan lisan tanpa data.
“Itu bisa didiligence, diverifikasi, ternyata benar, itu bisa dikuantifikasi kan, ya lempar tuh modal,” katanya, sembari menyebut bahwa saat ini Vietnam dan Malaysia menjadi tujuan investasi yang lebih diminati di Asia Tenggara dibanding Indonesia, salah satunya karena porsi lulusan STEM yang lebih tinggi.






