BUMN dan Danantara Diminta Kurangi Utang Baru
- account_circle Robi
- calendar_month 14 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: ilustrasi (AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta- Kenaikan yield obligasi Amerika Serikat turut merembet ke beban utang korporasi, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Ekonom Yanuar Rizky mengingatkan bahwa tekanan ini membuat opsi penerbitan utang baru, baik oleh negara maupun BUMN, menjadi jauh lebih mahal dan berisiko.
“Amerika Serikat sendiri korporasinya sekarang lagi mengalami tekanan akibat dari US Treasury yield-nya yang naik,” kata Yanuar, yang menyebut kondisi ini turut menaikkan biaya utang bagi korporasi di negara berkembang, termasuk BUMN Indonesia, di kanal YouTube-nya.
Ia menyoroti isu Danantara, badan pengelola investasi milik negara, yang menurutnya juga menghadapi tantangan serupa terkait kewajiban setoran ke APBN. “Danantara sendiri juga bagian dari masalah sebetulnya,” ujarnya, mempertanyakan strategi pengelolaan BUMN di tengah tekanan pasar utang global saat ini.
Yanuar menjelaskan bahwa persoalan ini bertambah rumit karena BUMN maupun pemerintah punya kewajiban utang jatuh tempo yang perlu di-roll over (revolving), di tengah kebutuhan pembiayaan defisit anggaran baru. Menurut hitungannya, kebutuhan revolving utang saja mencapai sekitar Rp850 triliun.
“Maka sebetulnya kita akan memasuki pasar surat utang dengan skema yang besar di saat harga surat utangnya sendiri mahal,” tegasnya, menyebut kombinasi ini sebagai kondisi yang “tidak rasional” jika dipaksakan bersamaan dengan pembiayaan program-program belanja baru.
Ia merekomendasikan agar BUMN dan pemerintah untuk sementara menahan diri dari penerbitan utang baru dan berfokus pada langkah mitigasi agar terhindar dari risiko gagal bayar di pasar surat utang.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar