Menu

Mode Gelap
LPG Itu Transisi, Bukan Tujuan Peak Emisi 2035 Terancam, Krisis Geopolitik Bikin Dunia Balik ke Fosil Subsidi LPG Bocor 70 Persen Eks Mendikbud Dituntut 18 Tahun, Lebih Berat dari Teroris The Power of Sharing: Mengikat Persaudaraan Lewat “Hadiyyah” Daging Qurban Pajak 2 Persen Konglomerat Bisa Gratiskan KRL 8 Tahun

ENERGI

Transisi Energi Harus Terjangkau dan Berbasis Ketahanan, Kata Satya Widya Yudha

badge-check


					Foto: Satya Widya Yudha, dok. ist Perbesar

Foto: Satya Widya Yudha, dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengatakan transisi energi di Indonesia harus dilakukan secara bertahap dan tetap mempertimbangkan keterjangkauan bagi masyarakat. Hal itu ia sampaikan dalam acara “Tempo Energy Day” di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 10 Desember 2025.

Satya menjelaskan sejak Konferensi Iklim Glasgow pada 2021, Indonesia didorong agar menghentikan penggunaan energi fosil pada 2040. Namun pemerintah memilih pendekatan hati-hati. “Indonesia tidak mengambil langkah phasing out fossil fuel, tetapi phasing down. Kami mengurangi penggunaan fosil sambil tetap memastikan penurunan emisi karbon terpenuhi,” ujarnya.

Menurut Satya, percepatan energi terbarukan dan pengurangan fosil harus berjalan seiring dengan pemenuhan keandalan pasokan. Ia menekankan pesan Presiden Prabowo Subianto bahwa ketahanan energi harus ditempatkan sebagai prioritas utama, sejajar dengan ketahanan pangan.

Di lain sisi, ia menilai ketahanan energi tidak hanya memastikan pasokan tersedia, tetapi juga mesti didukung infrastruktur memadai serta harga terjangkau. “Untuk apa bertransisi jika biayanya tidak terjangkau bagi masyarakat” katanya.

Dalam forum tersebut, ia menyebut dua isu yang perlu mendapat perhatian dalam transisi energi, yakni pemanfaatan energi sebagai aset daerah untuk mendorong investasi dan pendapatan asli daerah (PAD) dan urgensi pembiayaan hijau untuk mendukung komitmen transisi energi.

Pasalnya, Satya melanjutkan, Indonesia tidak dapat membiayai transisi energi sendirian. Pengalaman dalam skema Just Energy Transition Partnership (JETP), kata dia, menunjukkan bantuan internasional masih diberikan dengan skema bunga komersial yang tidak memberikan keistimewaan bagi negara berkembang.

”Ini very challenging. Transisi energi memerlukan dukungan pendanaan yang lebih adil,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketidakkonsistenan global dalam pengurangan emisi. Di satu sisi, negara-negara maju mendorong penghapusan energi fosil. Namun di sisi lain, permintaan batu bara tetap meningkat. Tren ini menunjukkan dunia belum sepenuhnya konsisten terhadap target penurunan emisi karbon.

Selain pendanaan, kata Satya, aspek teknologi juga menjadi hambatan dalam transisi energi. Teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon seperti carbon capture dan carbon capture utilization and storage masih sangat mahal.

Satya berpendapat negara maju perlu membantu agar teknologi tersebut menjadi lebih murah dan layak secara komersial sehingga dapat diterapkan negara berkembang. “Transisi energi adalah kebutuhan bersama. Indonesia tidak bisa bekerja sendirian. Kita perlu kolaborasi global,” ucapnya.

*Sumber: Tempo 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

LPG Itu Transisi, Bukan Tujuan

14 Mei 2026 - 12:51 WIB

Peak Emisi 2035 Terancam, Krisis Geopolitik Bikin Dunia Balik ke Fosil

14 Mei 2026 - 10:49 WIB

Subsidi LPG Bocor 70 Persen

14 Mei 2026 - 08:42 WIB

Populer ENERGI