INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Andi Widjajanto menyebut kemungkinan konflik Amerika Serikat (AS)-Iran berkembang menjadi Perang Dunia III masih tergolong kecil, hanya 15 hingga 25 persen. Penilaian itu ia sampaikan dalam wawancara di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Selasa (3/3/2026).
“Kalau dipakai data ini, kemungkinan masih kecil, hanya 15 sampai 25 persen mengarah ke perang dunia ketiga,” ujar Andi, yang kini memimpin lembaga kajian pertahanan Lab 45.
Ia menjelaskan bahwa pemodelan menuju Perang Dunia III selalu patah begitu faktor kepemilikan senjata nuklir dimasukkan. Dengan AS dan China masing-masing memiliki ribuan hulu ledak nuklir, kedua negara dipastikan tidak akan saling berperang secara langsung karena adanya doktrin kehancuran bersama (mutually assured destruction).
“Senjata nuklir adalah senjata perdamaian. Nuklir satu-satunya senjata yang digelar untuk tidak digunakan,” tegas Andi.
Menurutnya, ada empat ‘sekring’ atau circuit breaker yang harus patah secara bersamaan sebelum Perang Dunia III bisa terjadi: konflik Iran meluas menjadi konflik regional, negara-negara besar menerima dan menyerap dampak ekonomi dari konflik tersebut, China atau Rusia membuka medan perang baru di Asia Timur dan Eropa Timur, serta penangkalan nuklir gagal berfungsi — misalnya akibat serangan siber berbasis AI.
“Kita hanya tinggal empat langkah menuju perang dunia tiga. Dan perang dunia langsung meledak di Timur Tengah, di Asia Timur, di Eropa Timur — tiga teater sekaligus, baru benar-benar berskala dunia,” jelasnya.






