INAnews.co.id, Jakarta– Ancaman Iran atas Selat Hormuz, jalur laut yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, dinilai mantan Menteri ESDM, Arcandra Tahar sebagai bentuk perlawanan terencana, bukan reaksi spontan. “Ini bukan strategi yang out of the blue. Semua sudah dipikirin dan sudah ada yang pernah menulis dan menganalisa itu dari awal,” katanya dalam wawancara dengan presenter Helmy Yahya yang diunggah Senin (13/4/2026) malam.
Menurut Arcandra, strategi penggunaan jalur perdagangan sebagai senjata (weaponize) bukan hal baru. Ia mengutip tiga preseden: pertama, Arab Saudi mengembargo AS pada 1973 saat Amerika mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur, sehingga AS mengalami krisis energi pertama dalam sejarahnya. Kedua, Rusia menutup aliran gas North Stream ke Eropa Barat sebagai tekanan geopolitik. Ketiga, Iran kini mengancam Selat Hormuz.
“Negara yang punya sumber daya alam tapi tidak berdaya secara militer dan politik dunia, menggunakan jalur ini sebagai senjata. Itulah yang terjadi,” tegasnya.
Arcandra memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz terganggu, harga minyak dunia bisa melonjak ke level yang tak terprediksi. Indonesia, sebagai negara net importer minyak, akan merasakan dampak langsung dari gejolak tersebut.






