INAnews.co.id, Jakarta– Asia Tenggara berpotensi menjadi kekuatan besar dalam penanganan perubahan iklim global melalui pelestarian dan perluasan hutan mangrove, demikian disampaikan Bhima Yudhistira dalam wawancara bersama Gita Wirjawan yang tayang Rabu (15/4/2026).
Saat ini Asia Tenggara memiliki sekitar 6 juta hektar mangrove, setengahnya berada di Indonesia. Jika kawasan ini berhasil memperluas tutupan mangrove hingga 10 juta hektar, kemampuan serapan karbon (carbon sequestration) diperkirakan mencapai 10 gigaton per tahun—setara 25 persen dari total emisi karbon global.
“Dengan populasi 700 juta jiwa yang hanya 9 persen dari populasi dunia, kita bisa mengobati 25 persen masalah dunia setiap tahun,” ujar Bhima.
Dari sisi ekonomi, serapan karbon tersebut dapat dimonetisasi melalui pasar karbon. Dengan harga konservatif 10 dolar per ton, potensinya mencapai 100 miliar dolar per tahun—cukup untuk membiayai program MBG sekaligus kenaikan gaji guru.
Bhima juga menyoroti skema Tropical Forests Forever Facility yang dibahas dalam COP30 di Brasil sebagai peluang pembiayaan nyata, dengan insentif bagi negara yang berhasil memperluas kawasan hutan dan sanksi bagi yang membiarkannya menyusut.






