INAnews.co.id, Jakarta– AS mengajukan 15 tuntutan, sementara Iran mengajukan 10 tuntutan. Di antaranya, AS meminta Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun, sesuatu yang ditolak mentah-mentah oleh Teheran karena dianggap sebagai hak kedaulatan.
Iran sebaliknya menuntut AS menarik seluruh pasukannya dari Jazirah Arab, mencabut semua sanksi, dan membayar ganti rugi 500 miliar dolar atas kerugian ekonomi sejak sanksi diberlakukan tahun 1979.
Pengamat politik internasional Pitan Daslani mengingatkan fakta sejarah yang kerap terlupakan: program nuklir Iran justru dibangun dengan bantuan Amerika Serikat sendiri pada masa Presiden Dwight Eisenhower tahun 1957 melalui program “Atoms for Peace”. Perubahan baru terjadi setelah Revolusi Iran 1979. “Ini senjata makan tuan bagi Amerika,” kata Pitan di kanal YouTube-nya Helmy Yahya, Jumat.
Salah satu sorotan utama Pitan adalah manuver Cina yang ia sebut sebagai strategi yudo, membiarkan diri sedikit menderita dalam jangka pendek demi memenangkan persaingan jangka panjang. Cina telah membangun cadangan energi selama 20 tahun terakhir dan mengembangkan energi terbarukan, sehingga mampu bertahan meski Selat Hormuz diblokade total.
Ketika Bahrain mengajukan resolusi di Dewan Keamanan PBB untuk membuka Selat Hormuz, Cina dan Rusia justru memvetonya — dua kali. Menurut Pitan, ini adalah kalkulasi cerdas: jika AS diizinkan mengawal kapal di sana, Washington akan menentukan negara mana yang boleh mendapat pasokan minyak. “Cina tidak mau dicek seperti itu. Kalau Hormuz ditutup, yang justru tetap untung adalah Cina,” jelasnya.
Di sisi ekonomi, Cina membeli minyak Iran dengan harga diskon karena Iran tidak bisa menjual ke pasar bebas akibat sanksi. Pembayarannya pun dilakukan dengan sistem barter barang, bukan dolar.
”Urusan dagang jangan mengajari orang Cina, seperti mengajari ikan berenang,” ujar Pitan.






