INAnews.co.id, Jakarta– Dalam konfrontasi militer konvensional, Iran diprediksi hanya mampu bertahan hitungan hari hingga seminggu menghadapi kekuatan Amerika Serikat. Namun jika Iran beralih ke strategi perang asimetrik, konflik bisa berlarut bertahun-tahun tanpa pemenang militer yang jelas.
Hal itu diungkapkan Andi Widjajanto dalam wawancara dengan Akbar Faizal, Selasa (3/3/2026). Ia memaparkan bahwa jika Iran memilih pertempuran simetris — pesawat tempur lawan pesawat tempur, rudal lawan rudal — Iran akan dengan cepat dilumpuhkan.
“Kalau Irannya mau simetris, dalam hitungan seminggu juga kelar. Amerika Serikat unggul mutlak dalam segala aspek teknologi,” kata Andi. Jangankan mengirim F-22, lanjutnya, cukup dengan electronic jammer, sistem radar dan pertahanan Iran akan runtuh seketika.
Sebaliknya, Amerika Serikat juga terbukti tidak pernah mampu memenangkan perang asimetrik secara militer — dari Vietnam, Afghanistan, hingga Irak. Andi mengutip peringatan Henry Kissinger: pasukan konvensional yang gagal mengalahkan gerilyawan berarti secara efektif sudah kalah.
“Gerilia untuk menang tidak perlu menang lawan pasukan besar. Dia hanya perlu tidak kalah, hanya perlu survive,” jelasnya. Ia menambahkan, tidak ada satu pun perang asimetrik dalam catatan sejarah yang dimenangkan oleh pihak yang lebih kuat melalui jalur militer. Semua berakhir lewat cara-cara nonmiliter dan politik.
Iran dianggap memiliki ketahanan luar biasa setelah hampir 50 tahun bertahan di bawah embargo dan tekanan internasional sejak Revolusi 1979. Center of gravity Iran bukan sekadar persenjataan, melainkan perpaduan ideologi dan kepemimpinan — sesuatu yang jauh lebih sulit dihancurkan dari luar.






