INAnews.co.id, Jakarta– Pakar hukum tata negara dari Sekolah Tinggi Hukum Jentera, Bivitri Susanti, menyebut serangkaian intimidasi terhadap para pengkritik pemerintah sebagai bagian dari pola sistematis yang ia sebut authoritarian playbook, resep baku para pemimpin otoriter untuk membungkam suara kritis.
Melalui kanal YouTube-nya, Jumat (24/4/2026), Bivitri memaparkan deretan kasus intimidasi yang menimpa jurnalis dan aktivis. Chica Fransiska dari Tempo menerima kepala babi, DJ Doni dikirimi bom molotov, sementara aktivis Andrie Yunus kemungkinan besar mengalami kebutaan permanen pada mata kanannya setelah disiram air keras.
“Semuanya tujuannya adalah untuk membungkam kita,” ujar Bivitri.
Menurut Bivitri, pola serupa tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di Amerika Serikat, India, Hungaria, dan Brasil. Ia menegaskan, intimidasi semacam ini bukan soal dendam pribadi, melainkan soal kekuasaan yang tidak mau dikritik.






