INAnews.co.id, Jakarta– Film biografi The Impossible Journey resmi diperkenalkan kepada publik melalui acara soft launching yang digelar bersamaan dengan peresmian kantor Castle Film Production di Jakarta, Sabtu (25/4/2026). Film ini mengangkat kisah nyata perjalanan hidup AS Kobalen, politisi senior Partai Gerindra, yang pernah merasakan kerasnya kehidupan sebagai pemulung, penyemir sepatu, hingga tidur di pinggir jalan beralaskan koran.
Dari Autobiografi ke Layar Lebar
Kobalen mengungkapkan, keterlibatannya dalam proyek film ini sama sekali tidak direncanakan sejak awal. Ia mulanya hanya menulis autobiografi tentang perjalanan hidupnya. Namun, dorongan dari orang-orang di sekitarnya membuat kisah itu akhirnya diputuskan untuk diangkat ke layar lebar.
“Saya sama sekali tidak pernah berpikir ini akan difilmkan. Awalnya hanya menulis buku tentang perjalanan hidup. Tapi saat saya berbagi cerita dengan teman-teman, mereka melihat ini penting untuk disampaikan lebih luas,” ujarnya.
Ia menambahkan, rendahnya minat baca generasi muda turut mendorong keputusan tersebut. Film dinilai menjadi medium yang lebih efektif untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, terutama dalam menyampaikan pesan tentang perjuangan hidup.
Kisah Pahit yang Menjadi Energi Bangkit
Dalam acara tersebut, Kobalen membuka kisah kelam masa lalunya secara blak-blakan. Ia mengaku pernah makan dari sisa makanan di tempat sampah, menunggu orang selesai makan di restoran demi mendapatkan sisa makanan, hingga meminta air tajin kepada tetangga demi bertahan hidup.
Ia juga harus berulang kali putus sekolah karena keterbatasan biaya. Dalam keluarga yang beranggotakan 11 orang, satu kilogram beras kerap harus dibagi untuk semua, bahkan kadang hanya berupa bubur yang diencerkan.
Namun, Kobalen menegaskan bahwa semua pengalaman pahit itu justru menjadi bahan bakar untuk bangkit. Ia ingin pesan tersebut sampai kepada masyarakat, khususnya mereka yang masih berada di garis kemiskinan.
“Film ini bukan untuk menampilkan saya sebagai sosok hebat. Bukan itu. Tapi bagaimana orang-orang yang hari ini masih di bawah bisa percaya bahwa masa depan ada di tangan mereka sendiri,” tegasnya.
Kobalen juga menyoroti kecenderungan generasi muda yang menginginkan hasil instan tanpa melalui proses panjang. Menurutnya, justru proses itulah yang membentuk karakter, ketangguhan, disiplin, dan konsistensi.
Sutradara: Kisah Pria yang Menolak untuk Mati
Sutradara Agus Hermansyah Mawardi atau akrab disapa Agus “Pestol” menggambarkan film ini sebagai kisah tentang seorang pria yang diinjak hingga ke dasar bumi, namun menolak untuk menyerah.
“Intinya yang kami angkat adalah kisah tentang seorang pria yang diinjak hingga ke dasar bumi, namun menolak untuk mati. Dia memilih untuk bersinar tanpa melupakan tanah tempat dia berpijak,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, The Impossible Journey akan menampilkan alur maju-mundur untuk memperkuat dramatisasi cerita. Penonton akan diajak menyelami perjalanan hidup Kobalen sejak masa kecil, remaja, hingga dewasa. Salah satu kota yang akan ditampilkan adalah Medan, kota kelahiran Kobalen, di mana pihak produksi juga akan membuka casting akbar untuk mencari pemeran masa kecil sang tokoh.
Dari sisi genre, Agus menyebut film ini akan mengusung drama dengan sentuhan romansa yang kuat, berbeda dari karya-karyanya terdahulu yang lebih banyak bergenre drama aksi.
“Walaupun bicara tentang tragedi, romansenya kuat. Kalau boleh saya gambarkan, emosinya seperti film-film India, yang bisa bikin haru,” katanya.
Terkait jadwal tayang, Agus menargetkan film ini hadir di bioskop pada akhir 2026. Jika mengalami penyesuaian, film ini diproyeksikan menjadi pembuka di awal 2027.
Produser: Genre Biografi Sulit, tapi Kisah Ini Istimewa
Produser Stefanus Dimas mengakui bahwa film bergenre biografi adalah salah satu yang paling sulit dijual secara komersial. Ia mencontohkan Bohemian Rhapsody sebagai salah satu dari sedikit film biografi yang berhasil meraih sukses besar di pasar global.
Meski demikian, ia tetap optimistis menggarap proyek ini karena nilai inspiratif yang dikandungnya. The Impossible Journey merupakan film biografi kedua yang ia produseri, sekaligus film ke-10 dalam perjalanan kariernya.
“Film ini sangat lekat dengan perjuangan. Bagaimana seorang anak dari kaum minoritas bisa mencapai level tertinggi. Itu sangat jarang kita lihat, terutama di Indonesia,” katanya.
Dimas menargetkan film ini tidak hanya tayang di dalam negeri, tetapi juga menembus festival internasional. Ia mengakui tantangan distribusi film drama cukup besar mengingat dominasi genre horor di bioskop Indonesia, namun berharap jaringan bioskop seperti Cinema XXI dapat memberi ruang bagi karya drama berkualitas.
Dalam strategi pemasaran, ia menekankan pentingnya pendekatan kepada generasi muda menggunakan bahasa yang relevan dan mudah dipahami.
Executive Producer: Misi Sosial hingga Platform Global
Executive Producer Ike Suharjo menegaskan bahwa distribusi film ini tidak hanya ditujukan untuk pasar domestik. Pihaknya tengah menjajaki distribusi ke sejumlah negara, antara lain India, Pakistan, Malaysia, Eropa, hingga Amerika Serikat. Selain itu, ekspansi ke platform digital seperti Netflix dan layanan streaming lainnya juga tengah disiapkan.
Ike juga mengungkapkan misi sosial yang menyertai film ini. Pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan program CSR agar tiket film dapat dibagikan kepada masyarakat kurang mampu, termasuk anak jalanan dan kaum marjinal.
“Kita ingin film ini tidak hanya ditonton kalangan tertentu. Justru mereka yang masih berjuang di jalanan harus bisa melihat bahwa mereka punya kesempatan untuk bangkit,” ungkapnya.
Ia menambahkan, strategi pemasaran telah dimulai sejak awal produksi, tanpa menunggu film selesai, guna memastikan film ini sudah memiliki penonton yang jelas sebelum tayang.
Produser Merangkap Direktur: Karakter Dibangun dari Proses
Produser sekaligus Director film, Merdy “Melan” Rumintjap, menekankan pentingnya memperbanyak film bertema inspiratif untuk menyeimbangkan pola pikir generasi muda yang kini cenderung berorientasi pada hasil instan.
“Sekarang ini banyak yang gampang give up, mudah putus asa, ingin serba cepat. Padahal, proses itulah yang membentuk karakter seseorang,” tegasnya.
Melan memastikan pihaknya akan terus menghadirkan film-film inspiratif serupa ke depannya, termasuk kisah-kisah dari tokoh perempuan, dengan tujuan membuka wawasan dan memotivasi generasi muda.
Penulis Biografi: Kisah Terberat dari 31 Karya
Penulis buku biografi AS Kobalen, Robert Adi KSP, mengaku terkejut mengetahui kisah yang ia tulis akan diadaptasi ke layar lebar. Buku biografi Kobalen merupakan karya ke-31 Robert sejak ia memulai karier kepenulisan pada 2009.
“Kalau saya bandingkan dengan tokoh lain yang pernah saya tulis, memang ada yang hidupnya sulit. Tapi Pak Kobalen ini lebih dari itu. Sudah susah, ternyata di bawahnya masih ada kesusahan lagi,” tuturnya.
Robert menilai medium film memberi ruang lebih luas untuk mengeksplorasi sisi dramatis yang tidak sepenuhnya dapat dituangkan dalam sebuah biografi yang harus akurat dan faktual.
“Cerita Pak Kobalen ini sangat kuat. Kalau digarap serius, saya yakin bisa menyentuh penonton, bahkan sampai menitikkan air mata,” pungkasnya.






