INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, menyatakan kondisi fiskal Indonesia saat ini patut dikhawatirkan, sementara pemerintah tidak menunjukkan kesadaran akan krisis yang sedang terjadi. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi di FISIP UIN Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Sudirman, yang mengaku bukan ekonom namun pernah menjadi auditor, menjelaskan bahwa hanya ada dua cara mengelola fiskal ketika negara dalam kondisi sempit: menaikkan pendapatan atau menurunkan belanja. Namun, menurutnya, tidak ada tanda-tanda kedua hal itu dikerjakan dengan baik. Investasi tidak naik signifikan karena tidak ada kepastian hukum, kebijakan yang konsisten, dan birokrasi yang bersih. Sementara belanja negara tidak berkurang, bahkan terjadi pergeseran dari sektor-sektor produktif ke program-program yang dinilai melawan logika publik.
“Kepala negara kita tidak menampilkan sense of crisis,” ujar Sudirman. Ia juga menyebut kondisi daerah sangat terdampak akibat berkurangnya transfer ke daerah, dengan mencontohkan 53.000 tenaga P3K di NTT yang terancam bila pemangkasan benar-benar terjadi.






