INAnews.co.id, Jakarta– Berbeda dari komoditas mentah seperti sawit atau batu bara yang terbatas secara geografis dan logistik, produk budaya dapat direproduksi tanpa batas dan terus meningkatkan nilai tambahnya. Inilah keunggulan fundamental ekonomi berbasis budaya yang membuat Korea Selatan mampu bersaing di panggung global.
Sia Nawir (INDEF) menekankan bahwa budaya tidak mengenal batasan geografis dan tidak menguras stok bahan baku. Satu lagu, film, atau karakter fiksi bisa dinikmati jutaan orang sekaligus dan berkali-kali tanpa mengurangi nilainya. Lebih jauh, budaya juga menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang menggerakkan sektor lain, dari produk kecantikan, kuliner, pariwisata, hingga industri otomotif yang menggunakan selebritas Kpop sebagai brand ambassador.
Film Parasite yang memenangkan Oscar misalnya, langsung mendorong lonjakan penjualan rami instan Korea di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebuah contoh nyata bagaimana satu produk budaya dapat menggerakkan permintaan produk-produk lain secara bersamaan.






