INAnews.co.id, Jakarta– Korea Selatan (Korsel) berhasil mengubah fenomena kesepian yang melanda generasi mudanya menjadi kekuatan ekonomi baru. Peneliti Center for Macroeconomics and Finance INDEF, Sia Nawir, menyebut fenomena ini sebagai pergeseran struktural permintaan domestik, dari kebutuhan fisik menuju emotional demand, yang kemudian dikapitalisasi industri hiburan, streaming, dan budaya.
Sia menjelaskan bahwa selama dua dekade terakhir, anak-anak muda Korea cenderung memilih hidup sendiri dan tidak menikah, melahirkan honjok culture atau budaya hidup dan makan sendirian. Alih-alih melemahkan konsumsi, perubahan ini justru mendorong lonjakan permintaan terhadap konser, fan meeting, layanan streaming, hingga mukbang, siaran langsung makan yang muncul dari rasa kesepian dan kebutuhan akan koneksi sosial.
“Demand-nya bukan melemah, tapi berubah. Dari demand fisik menjadi demand yang ada connection-nya,” ujar Sia di kanal YouTube INDEF beberapa waktu lalu. Ia menambahkan bahwa populasi Korea yang menua dan angka kelahiran yang terus turun menciptakan tekanan struktural besar, namun pasar merespons dengan menyediakan produk-produk berbasis emosi dan komunitas yang memiliki nilai ekonomi tinggi.






