INAnews.co.id, Jakarta– Di tengah polemik war tiket, Indonesia disebut mulai tertinggal dalam pengembangan ekosistem industri haji global. Arab Saudi telah meluncurkan platform digital terintegrasi Nusuk yang digunakan oleh 30 juta pengguna di 190 negara, memungkinkan individu mengurus visa, akomodasi, dan perencanaan ritual secara mandiri tanpa agen perjalanan.
Peneliti INDEF Abdul Hakam Naja menyebut, beberapa negara dengan jumlah jemaah jauh lebih kecil dari Indonesia, termasuk Vietnam dan Thailand, justru lebih agresif masuk ke rantai pasok layanan haji di Arab Saudi, mulai dari katering hingga akomodasi.
Selain itu, kapasitas Masjidil Haram yang saat ini menampung sekitar 3 juta jemaah ditargetkan naik menjadi 5 juta pada 2030. Jika kuota Indonesia ikut meningkat signifikan, masa tunggu bisa turun drastis hingga 10 tahun, dan dana kelolaan BPKH pun berpotensi menyusut tajam karena jemaah lebih cepat berangkat. “Ini harus diantisipasi sekarang, bukan reaktif,” kata Hakam.






