Menu

Mode Gelap
Prabowo: 2045 Indonesia Jadi Ekonomi Keempat Terbesar Dunia Tiga Tahun Lagi Kita Kuat di Energi, Kata Presiden Tekiro dan ITS Surabaya Kembali Gelar Servis Gratis Dan Pelatihan Otomotif Untuk Masyarakat Surabaya Prabowo Minta Pengusaha Muda Jadi Patriot Ekonomi, Jangan Bawa Kabur Kekayaan Prabowo: 1.000 Kawan Terlalu Sedikit, Satu Lawan Terlalu Banyak Saut Situmorang Sebut Korupsi MBG Merampok Orang Lapar, Desak Purbaya Diperiksa

TEKNO

Paradoks: AI Bisa Makin Memperlebar Jurang si Kaya dan Miskin

badge-check


					Paradoks: AI Bisa Makin Memperlebar Jurang si Kaya dan Miskin Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta– Gita Wirjawan mengajukan konsep “paradoks kelimpahan” yang mengkhawatirkan: meski biaya AI secara teoretis menuju nol, manfaatnya belum tentu tersebar merata. Fenomena serupa sudah terjadi pada modal ekonomi dan robotika, keduanya berlimpah, namun semakin terkonsentrasi.

Goebel sependapat dan mengingatkan sejarah. Ketika mesin cetak Gutenberg lahir, para biarawan meramalkan bencana. Ketika alat tenun Jacquard muncul di era revolusi industri, ribuan penenun terancam. Namun dalam praktiknya, alat tenun Jacquard justru membuka peluang bagi perempuan yang sebelumnya tidak bisa mengoperasikan alat tenun berat, jumlah penenun perempuan melonjak dari 200 menjadi 3.600 orang.

“Setiap metode AI, sesederhana apa pun, selalu menciptakan situasi baru yang bisa diadaptasi manusia untuk memperbaiki masyarakat,” ujar Goebel, dalam tayangan YouTube Gita, pekan lalu. Namun ia menekankan bahwa potensi itu baru terwujud bila ada tekad politik untuk mendemokratisasikan akses.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Pakar Kecerdasan: Data Kesehatan Indonesia tak Boleh Dijual ke Raksasa Teknologi

15 Mei 2026 - 17:04 WIB

Asia Tenggara Terancam Tertinggal: Krisis Energi Hambat Adopsi AI

15 Mei 2026 - 15:21 WIB

AI Sebagai Infrastruktur Peradaban dan Masa Depan Kepemimpinan Islam

19 April 2026 - 17:16 WIB

Populer PENDIDIKAN