INAnews.co.id, Jakarta– Gita Wirjawan mengajukan konsep “paradoks kelimpahan” yang mengkhawatirkan: meski biaya AI secara teoretis menuju nol, manfaatnya belum tentu tersebar merata. Fenomena serupa sudah terjadi pada modal ekonomi dan robotika, keduanya berlimpah, namun semakin terkonsentrasi.
Goebel sependapat dan mengingatkan sejarah. Ketika mesin cetak Gutenberg lahir, para biarawan meramalkan bencana. Ketika alat tenun Jacquard muncul di era revolusi industri, ribuan penenun terancam. Namun dalam praktiknya, alat tenun Jacquard justru membuka peluang bagi perempuan yang sebelumnya tidak bisa mengoperasikan alat tenun berat, jumlah penenun perempuan melonjak dari 200 menjadi 3.600 orang.
“Setiap metode AI, sesederhana apa pun, selalu menciptakan situasi baru yang bisa diadaptasi manusia untuk memperbaiki masyarakat,” ujar Goebel, dalam tayangan YouTube Gita, pekan lalu. Namun ia menekankan bahwa potensi itu baru terwujud bila ada tekad politik untuk mendemokratisasikan akses.






