Menu

Mode Gelap
Cas dari PLN, EV Tetap Lebih Hijau dari Kendaraan BBM Halalbihalal JATTI: AI, Koperasi, dan Masa Depan Umat Industri Hijau Justru Picu Ekstraksi Mineral Makin Masif Syafii Antonio: Alumni Timur Tengah Harus Kuasai Ekonomi Syariah Tanpa Inovasi, Indonesia Selamanya Ekspor Bahan Mentah Hilirisasi Butuh Rantai Pasok Lengkap, Nikel Saja tak Cukup

PENDIDIKAN

AI Sebagai Infrastruktur Peradaban dan Masa Depan Kepemimpinan Islam

badge-check


					Foto: UBN di Halalbihalal Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), di Jakarta, Ahad (19/4/2026) Perbesar

Foto: UBN di Halalbihalal Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), di Jakarta, Ahad (19/4/2026)

INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Ustaz Bachtiar Nasir, menegaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini telah menjadi infrastruktur peradaban yang vital dan menentukan masa depan umat manusia, termasuk umat Islam. Pernyataan itu disampaikan dalam Halalbihalal JATTI yang digelar di Jakarta, Ahad (19/4/2026).

“Otak manusia mulai dibentuk oleh teknologi. Ini adalah sinyal bahwa AI telah menjadi infrastruktur peradaban yang sangat vital,” sambutan Ustaz Bachtiar  Nasir (UBN) di hadapan para alumni Timur Tengah yang hadir.

Ia mengingatkan bahwa akses dan investasi AI saat ini masih terkonsentrasi di segelintir negara dan korporasi besar sehingga menimbulkan pertanyaan mendasar: siapa yang akan menjadi elite global baru yang memengaruhi dunia di masa depan?

UBN menyoroti kondisi umat Islam yang menurutnya masih sebatas pengguna AI, bahkan belum cerdas dalam memanfaatkannya untuk kepentingan dakwah dan pendidikan. Ia mengkritik fenomena penggunaan AI sekadar untuk tampil pintar tanpa verifikasi informasi, yang disebutnya berbahaya.

Agar umat Islam tidak sekadar menjadi konsumen, ia menyebut empat prinsip yang harus dipegang dalam memasuki industri AI: fokus dalam arah yang jelas, amanah dalam menjaga integritas data dan pesan, kualitas dalam menghasilkan output yang unggul, dan kolaborasi agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan efisiensi AI dalam dunia bisnis, hanya dari satu foto produk, AI mampu mengelola data bahan baku, konten pemasaran, hingga prediksi penjualan. “Ekosistem seperti inilah yang harus kita bawa ke dunia pendidikan dan dakwah,” tegasnya.

Lebih jauh, UBN merinci lima syarat yang harus dipenuhi agar produk AI yang dikembangkan umat Islam mampu bersaing dan menjadi pemenang. Pertama, bermanfaat nyata, menyelesaikan masalah riil umat di bidang kesehatan, keuangan syariah, produktivitas UMKM, logistik halal, hingga dakwah global. Kedua, berbasis etika dengan menjunjung tinggi nilai moral. Ketiga, unggul secara teknis. Keempat, memiliki kedalaman data lokal yang memahami konteks dan kearifan setempat. Kelima, dapat diskalakan agar mampu berkembang luas.

“Tanpa ini, kita akan tumbang dan dibentuk oleh AI produksi pihak lain yang mungkin minus nilai moralitas,” ujarnya.

UBN juga menyoroti bagaimana AI tengah mengubah peta kekuatan global, termasuk dalam konteks konflik bersenjata. Ia mencontohkan bagaimana teknologi berbasis AI kini memungkinkan pertahanan yang jauh lebih murah dibandingkan sistem konvensional—sebuah bukti bahwa AI mampu mengubah hal-hal mahal menjadi terjangkau.

Dalam konteks ini, ia memandang Indonesia sebagai “surga” bagi dunia Islam apabila mau serius mengembangkan riset dan ilmu pengetahuan. “Kebangkitan umat hanya bisa dicapai melalui kolaborasi. Kita tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri,” tegasnya.

Mengutip temuan para peneliti, UBN menyampaikan keyakinannya bahwa dalam 20 tahun ke depan, pemimpin-pemimpin yang akan muncul adalah mereka yang berpegang teguh pada nilai-nilai identitas, dan isu agama akan kembali menguat.

“Jangan mundur! Era di mana agama dikucilkan atau diberi stigma negatif akan berganti menjadi era kemenangan agama,” ujarnya. Ia menunjuk fenomena politik Amerika Serikat, di mana identitas nasional dan keagamaan dinilainya memengaruhi terpilihnya pemimpin seperti Donald Trump, sebagai cermin dari tren politik identitas global.

Menutup sambutannya, UBN secara khusus menyerukan kepada generasi muda alumni Timur Tengah untuk bersiap tampil di panggung kepemimpinan. “Kalian yang berusia di bawah 40 tahun, bersiaplah naik ke gelanggang. Masa depan ada di tangan kalian,” pesannya.

Ia menaruh harapan besar agar kepemimpinan Indonesia 40 tahun ke depan dipegang oleh generasi muda yang memiliki jati diri, integritas, dan jaringan internasional yang kuat, termasuk melalui jejaring alumni Timur Tengah seperti JATTI. Generasi tua, kata dia, bertugas mengawal perjalanan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Gelar Silaturahmi Idulfitri, DDII Tegaskan Komitmen Bangun Indonesia Adil Makmur 2045

20 April 2026 - 12:33 WIB

67.000 Alumni Timteng Kekuatan Baru: Rektor YARSI Tawarkan Kolaborasi Riset dengan JATTI

19 April 2026 - 19:33 WIB

Investasi Pendidikan Kalah dari MBG

16 April 2026 - 17:59 WIB

Populer PENDIDIKAN