Menu

Mode Gelap
Indonesia Memiliki Potensi Energi Panas Bumi 24 Ribu Megawatt Indonesia Catat Cadangan Beras Tertinggi, 5,3 Juta Ton Tersimpan CBA Bongkar Dugaan Mark Up Rp147 Juta untuk Komputer Sultan di Setda Kaltim Nepotisme Bunuh Semangat Anak Muda: “Untuk Apa Sekolah Tinggi?” 80 Tahun Merdeka, Indonesia Masih Kalah dari Vietnam dan Korsel Moral Intelektual Bangsa Melahirkan Pemimpin Bermoral

POLITIK

Pengamat Menyoal Sulitnya Orang di Luar Jawa Jadi Presiden

badge-check


					Foto: Adi Prayitno/tangkapan layar Perbesar

Foto: Adi Prayitno/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Pernyataan mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), yang menyebut sulitnya orang di luar Jawa menjadi presiden memantik respons dari kalangan pengamat politik. Pengamat politik Adi Prayitno menilai pernyataan itu bukan sekadar keluhan, melainkan cerminan realitas struktur politik dan demografi pemilih di Indonesia.

Dalam unggahan di kanal YouTube pribadinya, Senin (18/5/2026), Adi Prayitno menelusuri latar belakang pernyataan JK yang disampaikan dalam tasyakuran ulang tahunnya yang ke-84. Menurutnya, pernyataan tersebut lahir dari pengalaman panjang JK di dunia politik — mulai dari anggota dewan, menteri, Ketua Umum Golkar, hingga dua kali menjabat wakil presiden, serta pernah mencalonkan diri sebagai presiden pada Pilpres 2009 berpasangan dengan Wiranto, namun kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Mayoritas Pemilih dan Preferensi Etnis

Adi mengungkapkan dua fakta politik yang menurutnya mengonfirmasi pernyataan JK tersebut. Pertama, soal preferensi pemilih. Berdasarkan data survei yang ada, sekitar 65 persen masyarakat Indonesia cenderung memilih calon presiden berlatar belakang suku Jawa. Hal itu, kata dia, tidak lepas dari kenyataan bahwa lebih dari 60 persen pemilih Indonesia sendiri adalah orang Jawa.

“Ini didasari karena memang secara profil demografi pemilih kita hampir 60 persen lebih itu juga adalah mayoritas orang Jawa,” ujarnya.

Kedua, soal konsentrasi suara. Adi menyebut bahwa Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur saja sudah menyumbang hampir 50 persen suara nasional. Bila ditambah Jakarta dan Banten, total suara dari wilayah itu mencapai sekitar 62 persen dari seluruh pemilih Indonesia. Kondisi ini, menurutnya, membuat para kandidat dan tim pemenangan cenderung memusatkan kampanye di Pulau Jawa.

“Ada satu istilah yang dalam politik selalu diulang-ulang: Jawa adalah kunci,” kata Adi.

Solusi: Ubah Sistem Pemilihan

Adi menawarkan sejumlah skenario agar kandidat dari luar Jawa memiliki peluang yang lebih setara. Ia menilai solusi paling mendasar adalah mengubah sistem pemilihan presiden.

Pertama, mengembalikan pemilihan presiden ke tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dengan sekitar 700 hingga 800 anggota MPR yang terdiri dari DPR dan DPD sebagai pemilih, peluang kandidat non-Jawa dinilai jauh lebih terbuka karena tidak lagi bergantung pada dominasi massa pemilih di Pulau Jawa.

Kedua, mengubah formula kemenangan berdasarkan jumlah provinsi yang dimenangi. Dari total 38 provinsi yang ada, kandidat yang memenangi suara mayoritas di provinsi terbanyak dapat dinyatakan sebagai pemenang.

Ketiga, menggunakan formula kabupaten dan kota sebagai basis penghitungan. Dari 418 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, kandidat yang memenangi separuh lebih wilayah tersebut bisa dinyatakan sebagai presiden terpilih.

“Hanya dengan cara itu, equality, kebersamaan, dan kesempatan yang sama untuk menjadi presiden di Republik Indonesia, baik Jawa ataupun non-Jawa, sangat mungkin terjadi,” kata Adi.

Ia menegaskan, selama sistem pemilihan presiden masih dilakukan secara langsung dengan prinsip one man one vote, dominasi pemilih Jawa akan terus menjadi faktor penentu. Sejak pemilihan presiden langsung pertama kali digelar pada 2004 hingga sekarang, seluruh presiden yang terpilih berasal dari etnis Jawa, sebuah fakta yang bagi Adi menjadi bukti nyata dari apa yang disampaikan JK.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Moral Intelektual Bangsa Melahirkan Pemimpin Bermoral

20 Mei 2026 - 20:03 WIB

Sudirman Said: Negara Kini Jadi Mesin Kekuasaan Serakah

20 Mei 2026 - 19:01 WIB

Diplomasi Indonesia Harus Naik Level, 24 Jam WNI Ditahan Israel

20 Mei 2026 - 13:50 WIB

Populer POLITIK