INAnews.co.id, Jakarta– Nilai tukar rupiah mencapai titik terendah dalam sejarah. Namun tiga ekonom yang hadir dalam kanal YouTube Anies Baswedan, Kamis (28/5/2026), kompak menilai pemerintah justru bersikap denial, mengklaim keadaan baik-baik saja di tengah tekanan ekonomi yang kian nyata.
Ekonom dan pengkaji fiskal Awalil Rizky menyebut sikap itu berbahaya. Ia mengatakan banyak negara lain mengakui sedang mengalami kesulitan dan mengambil langkah mitigasi, sementara Indonesia justru sebaliknya. “Kita sakit tapi kita ngomong kita sehat. Kita enggak punya uang, kita ngomong kita kaya,” kata Awalil.
Pelemahan rupiah, menurut Awalil, adalah gejala, bukan penyakit itu sendiri. Penyakit sesungguhnya adalah persoalan struktural yang telah terakumulasi selama satu hingga dua dekade, diperparah oleh pandemi COVID-19, perubahan rantai pasok global, serta normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Praktisi pasar modal Yanuar Rizky menambahkan bahwa pelemahan rupiah bukan fenomena baru. Ia menyebut sinyal kerentanan Indonesia telah terlihat sejak 2012, ketika Bank Sentral AS (The Fed) mulai normalisasi neraca dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari five fragile countries bersama Turki, Brasil, Afrika Selatan, dan India.
Ekonom Universitas Indonesia Vid Adrison menyoroti bahwa kepercayaan adalah fondasi nilai tukar. Ketika prospek ekonomi diragukan, insentif untuk menukar rupiah ke valuta asing meningkat. “Ekspektasi itu bisa karena kinerja masa lalu dan ekspektasi ke depan. Sumber permasalahan kita ada di fiskal,” ujarnya.






