INAnews.co.id, Jakarta– Kualitas data pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai diragukan secara serius. Salah satu anomali yang disoroti: sektor manufaktur diklaim tumbuh di atas 5 persen, sementara konsumsi listrik industri justru mencatat pertumbuhan negatif.
Awalil Rizky menyebut kejanggalan itu mulai mencolok sejak kuartal kedua 2025. “Data gas dan electricity minus semua, sementara manufaktur di atas lima. Ini ada problem di dalam data,” ujarnya dalam diskusi di kanal YouTube-nya Anies Baswedan yang diunggah Kamis (28/5/2026).
Ia mengingatkan bahwa konsumsi listrik selama ini dianggap sebagai indikator paling jujur aktivitas ekonomi, karena semua kegiatan, legal maupun informal, membutuhkan listrik.
Yanuar Rizky mengaitkan persoalan data ini dengan kasus Argentina pada 2020, ketika negara itu gagal merestrukturisasi utangnya karena para pemegang obligasi menolak permintaan tersebut. Alasannya: Argentina dianggap telah memanipulasi data statistik sejak 2008. “Siapa pun hedge fund akan men-short karena posisi pemerintah sudah masuk jebakan offset-nya sendiri dengan main-main data statistik,” kata Yanuar.
Vid Adrison menegaskan bahwa kepercayaan investor sangat bergantung pada keandalan data. Ketika angka pertumbuhan tidak sejalan dengan penerimaan pajak, sinyal yang diterima pasar adalah ketidakpercayaan. Ia menyerukan agar pemerintah menghentikan sugar coating, memperindah data demi kesan positif. “Iklim transparansi dan kejujuran data itu top down,” tegasnya.






