Menu

Mode Gelap
Legal Belum Tentu Benar: Membongkar Jebakan Legalisme Autokratik Fungsi Pengawasan DPR Dinilai Telah Lumpuh Tiga Ekonom Serukan Koreksi Fiskal, Hentikan Penyangkalan Pinjol Meledak, Kartu Kredit Naik: Konsumsi RI Dibiayai Utang Data Ekonomi Dipertanyakan, Manufaktur Tumbuh tapi Listrik Minus 23 Persen Pajak Habis untuk Bunga Utang, Fiskal RI Lampu Kuning

EKONOMI

Data Ekonomi Dipertanyakan, Manufaktur Tumbuh tapi Listrik Minus

badge-check


					Foto: ilustrasi (AI) Perbesar

Foto: ilustrasi (AI)

INAnews.co.id, Jakarta– Kualitas data pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai diragukan secara serius. Salah satu anomali yang disoroti: sektor manufaktur diklaim tumbuh di atas 5 persen, sementara konsumsi listrik industri justru mencatat pertumbuhan negatif.

Awalil Rizky menyebut kejanggalan itu mulai mencolok sejak kuartal kedua 2025. “Data gas dan electricity minus semua, sementara manufaktur di atas lima. Ini ada problem di dalam data,” ujarnya dalam diskusi di kanal YouTube-nya Anies Baswedan yang diunggah Kamis (28/5/2026).

Ia mengingatkan bahwa konsumsi listrik selama ini dianggap sebagai indikator paling jujur aktivitas ekonomi, karena semua kegiatan, legal maupun informal, membutuhkan listrik.

Yanuar Rizky mengaitkan persoalan data ini dengan kasus Argentina pada 2020, ketika negara itu gagal merestrukturisasi utangnya karena para pemegang obligasi menolak permintaan tersebut. Alasannya: Argentina dianggap telah memanipulasi data statistik sejak 2008. “Siapa pun hedge fund akan men-short karena posisi pemerintah sudah masuk jebakan offset-nya sendiri dengan main-main data statistik,” kata Yanuar.

Vid Adrison menegaskan bahwa kepercayaan investor sangat bergantung pada keandalan data. Ketika angka pertumbuhan tidak sejalan dengan penerimaan pajak, sinyal yang diterima pasar adalah ketidakpercayaan. Ia menyerukan agar pemerintah menghentikan sugar coating, memperindah data demi kesan positif. “Iklim transparansi dan kejujuran data itu top down,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Tiga Ekonom Serukan Koreksi Fiskal, Hentikan Penyangkalan

29 Mei 2026 - 18:12 WIB

Rupiah di Titik Terendah, Ekonom: Pemerintah Denial

29 Mei 2026 - 10:48 WIB

CBA: BRI Masih Gelontorkan Ratusan Miliar untuk Direksi dan Komisaris Anggaran Tantiem

29 Mei 2026 - 01:50 WIB

Populer EKONOMI