INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia menegaskan tidak akan menghapus penggunaan energi fosil, melainkan memilih strategi dekarbonisasi bertahap sembari mengembangkan energi baru dan terbarukan (EBT). Pilihan ini diambil berdasarkan pelajaran dari krisis energi yang menimpa Inggris, India, dan China ketika terlalu tergesa-gesa meninggalkan fosil.
Dalam skenario transisi energi yang dirancang DEN, kata Satya Widya Yudha, bauran EBT ditargetkan mencapai 70 hingga 72 persen pada 2060, sesuai komitmen net zero yang disampaikan Presiden Jokowi di COP26 Glasgow tahun 2021. Energi baru dalam skenario ini mencakup nuklir dan berbagai teknologi mutakhir yang terus berkembang.
“Prinsip yang dianut adalah just energy transition atau transisi berkeadilan, memastikan perubahan sistem energi tidak mengorbankan daya beli masyarakat,” ucap Satya saat wawancara dalam program Prime Time INAnews TV, Selasa (26/5/2026).
Pemerintah juga mengajak partisipasi aktif masyarakat, akademisi, dan industri, termasuk mendorong budaya hemat energi dan beralih ke transportasi umum sebagai kontribusi nyata dalam meredam dampak gejolak energi global.






