INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia mencatat kemajuan dalam indeks ketahanan energi nasional, dengan skor yang bergerak dari 6,5 menjadi 7,3 dari skala 10. Meski demikian, Anggota DEN Satya Widya Yudha menegaskan bahwa Indonesia belum bisa disebut swasembada energi, khususnya di sektor minyak bumi.
“Ketahanan energi diukur dari empat komponen utama, yakni ketersediaan pasokan, aksesibilitas infrastruktur, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan lingkungan,” katanya saat wawancara dalam program Prime Time INAnews TV, Selasa (26/5/2026).
Keempat faktor itu dinilai Satya sudah cukup terpenuhi oleh Indonesia, menempatkan posisi negara ini setara dengan Jepang yang minim sumber daya alam namun memiliki ketahanan energi yang kokoh.
“Untuk mencapai swasembada minyak, Indonesia membutuhkan lonjakan aktivitas eksplorasi yang signifikan. Namun sejak tahun 2000-an hingga 2020, hampir tidak ada penemuan cadangan minyak baru yang berarti, kecuali di Cepu oleh ExxonMobil,” katanya. Sebaliknya, penemuan gas bumi justru berlimpah, seperti Tangguh, Masela, dan Donggi-Senoro, menunjukkan bahwa masa depan cadangan energi Indonesia lebih condong ke gas daripada minyak.






