INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia menghadapi tekanan fiskal serius akibat ketergantungan impor minyak yang tinggi. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengungkapkan, kenaikan harga minyak dunia sebesar satu dolar saja langsung menimbulkan defisit hampir Rp6 triliun terhadap APBN. Hal itu disampaikan Satya saat wawancara dalam program Prime Time INAnews TV, Selasa (26/5/2026).
Kondisi ini diperberat oleh kesenjangan besar antara produksi dan konsumsi. Indonesia kini hanya mampu memproduksi sekitar 605 ribu barel minyak per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. “Artinya, sekitar satu juta barel per hari harus dipenuhi melalui impor,” sampainya.
Tekanan tidak hanya datang dari harga minyak, kata Satya. “Pergerakan kurs rupiah pun turut memperberat beban fiskal, setiap kenaikan Rp100 per dolar AS menambah defisit sekitar Rp0,8 triliun. Dengan asumsi APBN yang dipatok pada harga 65 dolar per barel, sementara harga aktual sempat melampaui 100 dolar per barel dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah harus menanggung selisih yang sangat besar agar beban tidak dilimpahkan kepada masyarakat,” katanya.






