INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia berhasil membuka jalur impor minyak dari Rusia dengan harga diskon hingga 35 persen di bawah harga pasar, sebuah terobosan diplomatik yang disebut tidak mudah diraih. Anggota DEN Satya Widya Yudha menilai keberhasilan ini sebagai momen langka dalam sejarah pengelolaan energi nasional.
“Sebelumnya, Indonesia menghadapi hambatan besar untuk bertransaksi dengan Rusia yang terkena sanksi Amerika Serikat sejak 2022. Selama tahun 2022 hingga 2023, berbagai keterikatan kesepakatan dengan Amerika membuat Indonesia tidak leluasa mengakses pasokan minyak Rusia yang dijual murah,” ujarnya saat wawancara dalam program Prime Time INAnews TV, Selasa (26/5/2026).
Kondisi itu kini berubah di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bergabungnya Indonesia ke BRICS, dipadukan dengan pendekatan diplomatik aktif Prabowo ke Washington maupun Moskow, membuka ruang bagi Indonesia untuk membeli minyak Rusia tanpa terkena sanksi.
“Impor minyak mentah Indonesia sendiri mencapai sekitar 135 juta barel per tahun, dengan sebelumnya sekitar 25 juta barel bersumber dari Arab Saudi yang dinilai berisiko akibat kedekatan geografisnya dengan zona konflik Timur Tengah,” ungkap Satya.






