INAnews.co.id, Jakarta– Pengumuman kebijakan ekspor komoditas strategis melalui Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) dalam pidato Presiden Prabowo langsung memukul pasar. IHSG terus melemah dan mendekati level 6.000, sementara nilai tukar rupiah masih bertengger di atas Rp17.000 per dolar AS.
Eko Listiyanto menyebut pasar terkejut oleh mekanisme baru yang mewajibkan ekspor sejumlah komoditas melalui DSI sebagai lembaga perantara. “Efek kejut selalu responnya bukan langsung positif, tapi negatif dulu,” ujarnya dalam podcast di kanal YouTube INDEF, Sabtu (30/5/2026).
Ia mengakui semangat kebijakan itu, memberantas under invoicing dan transfer pricing, secara konsep cukup inovatif dan sejalan dengan prinsip kedaulatan sumber daya alam. Namun ia memperingatkan risiko meningkatnya biaya transaksi ekspor yang bisa mengalihkan pembeli luar negeri ke negara lain. “Kita pernah punya BPPC di era Orde Baru, tapi akhirnya dibubarkan karena biaya transaksinya mahal,” katanya.
Eko menyarankan pemerintah menempatkan figur profesional yang kredibel dan apolitis di jajaran pengurus DSI agar kepercayaan pasar perlahan pulih.






