INAnews.co.id, Jakarta- Di balik pelemahan rupiah yang kini mendekati—pernah Rp18.000 per dolar AS, Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menunjuk satu akar masalah utama: krisis kepercayaan, bukan sekadar kelemahan fundamental ekonomi.
“Sudah pasti karena ketidakpercayaan,” kata Dipo, dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up beberapa waktu lalu. “Kepercayaan terhadap regulasi, kepercayaan bahwa pemerintah bisa menyelesaikan masalah.”
Ia mengkritik pendekatan pemerintah yang disebutnya hanya mengejar quick win. Intervensi Bank Indonesia di pasar spot dan NDF memang sempat menekan rupiah ke kisaran Rp17.700, namun efeknya tidak bertahan. “Mereka sudah jumawa duluan, padahal masalah strukturalnya belum disentuh,” ujarnya.
Ketidakpercayaan itu juga tecermin dari pasar modal. Ketika harga saham anjlok, pemerintah mendorong BUMN melakukan buyback, langkah yang menurut Dipo justru memperburuk likuiditas dan memperdalam kecurigaan pasar soal nilai aset yang sesungguhnya.
Ia membandingkan dengan reformasi era Habibie pascakrisis 1998. Saat itu, kepercayaan pulih bukan karena intervensi pasar, melainkan karena perbaikan sistem: undang-undang independensi Bank Indonesia dibenahi, tata kelola dikoreksi. “Seharusnya ada patung Pak Habibie di depan gedung Bank Indonesia,” katanya.






