INAnews.co.id, Jakarta– Gita Wirjawan memaparkan empat strategi pengelolaan talenta atau “otak” bangsa yang menurutnya lazim digunakan negara-negara maju: brain train, brain gain, brain circulation, dan brain linkage.
Ia mencontohkan Jepang sebagai representasi brain train, negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, dan Singapura sebagai contoh brain gain, Tiongkok sebagai representasi brain circulation, serta India sebagai contoh brain linkage lewat diasporanya yang tersebar di berbagai negara maju namun tetap terhubung dengan kampung halaman.
“Indonesia menurut gua enggak punya brain train, enggak punya kepribumian talenta dengan skala yang besar,” ujar Gita, saat menjadi bintang tamu di kanal YouTube Helmy Yahya, Senin (3/8/2026).
Ia menilai populasi besar Indonesia belum diimbangi jumlah talenta unggul secara proporsional dibanding India maupun Tiongkok. Karena itu, menurutnya, Indonesia mau tidak mau harus mengoptimalkan dua jalur lain, yakni brain gain dengan membuka pintu bagi talenta asing, serta brain circulation dengan mengirim lebih banyak pelajar ke luar negeri.
“Kita mau enggak mau harus brain gain, buka pintu, datangin dari luar, sama brain circulation, kirim 2 juta dalam 20 tahun ke depan,” katanya.
Sebagai perbandingan, Gita menyebut jumlah diaspora Indonesia di Amerika Serikat hanya berkisar 8.500 orang, jauh di bawah Tiongkok maupun India yang mencapai ratusan ribu orang.






