INAnews.co.id, Jakarta– Dalam perbincangan tersebut, Gita Wirjawan menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia dan kawasan Asia Tenggara memiliki posisi strategis sebagai “negara berayun” (swing nation) di tengah persaingan geopolitik Amerika Serikat dan Tiongkok.
“Kita secara geopolitik kita bisa berayun ke Tiongkok atau ke barat. Kita enggak akan dihukum,” kata Gita, saat menjadi bintang tamu di kanal YouTube Helmy Yahya, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, kedekatan dengan Tiongkok umumnya dimanfaatkan untuk akses teknologi yang lebih terjangkau, sementara kedekatan dengan negara-negara Barat dimanfaatkan untuk akses permodalan dan investasi.
Gita membandingkan situasi saat ini dengan keputusan Dinasti Qing pada abad ke-17 yang menarik diri dari pergaulan internasional, sehingga menciptakan ketimpangan kekuatan yang berujung pada kolonialisasi Asia Tenggara selama sekitar 350 tahun.
“Karena Tiongkok enggak menyeimbangkan kekuatan Eropa, kita dijajah,” ujarnya.
Ia optimistis dinamika persaingan Barat dan Tiongkok ke depan justru akan menciptakan keseimbangan baru yang menguntungkan Asia Tenggara, asalkan kapasitas kognisi dan kemampuan bercerita (storytelling) bangsa turut ditingkatkan.
“Kita butuh peningkatan kognisi, kita butuh peningkatan kapasitas bercerita. Dibutuhkan storyteller,” katanya.






