INAnews.co.id, Jakarta– Gita Wirjawan menyoroti keterbatasan infrastruktur kelistrikan Indonesia sebagai penghambat besar bagi ambisi negara untuk menjadi pemain utama dalam teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya AI generasi baru berbasis agentic yang disebutnya mengonsumsi energi jauh lebih besar dibanding mesin pencari konvensional.
“Lu kalau pakai AI yang sifatnya itu penggunaan energinya 10 sampai 50 kali dibanding search di Google,” kata Gita, seraya menambahkan bahwa penggunaan AI di sektor perfilman bisa mengonsumsi energi hingga seribu kali lipat dibanding pencarian sederhana, saat menjadi bintang tamu di kanal YouTube Helmy Yahya, Senin (3/8/2026).
Menurut hitungannya, kapasitas kelistrikan ideal agar sebuah negara bisa disebut “AI capable” berada di kisaran 10.000 kWh per kapita, sementara Indonesia baru berada di angka 1.300 kWh per kapita atau sekitar 13 persen dari standar tersebut.
Ia menyebut kapasitas daya terbangun nasional saat ini berkisar 100 gigawatt (GW), sementara kebutuhan untuk mencapai standar tersebut mencapai 700 GW.
“Lu tahu Indonesia mampu bangun berapa per tahun? Bro, 5.000 (MW) only. Jadi lu harus nunggu 120 tahun, Bro, untuk mencapai modernitas,” ujarnya.
Ia mengusulkan percepatan pembangunan pembangkit listrik hingga 30.000 MW per tahun agar target itu bisa dicapai dalam 20 tahun, sekaligus menyebut potensi terciptanya jutaan lapangan kerja baru dari proyek elektrifikasi skala besar tersebut.
“Jadi mereka bakal jadi stakeholder narasi AI, bukan spektator narasi AI,” katanya, merujuk pada generasi mendatang.






