Ekonom: Asing Belum Kabur, Sedang “Goreng” Saham RI
- account_circle Robi
- calendar_month 21 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Yanuar Rizky/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom Yanuar Rizky membantah anggapan bahwa investor asing telah meninggalkan pasar saham Indonesia. Dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada Ahad (27/9/2026), ia justru menilai asing masih memegang saham dalam jumlah besar dan tengah memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk meraup keuntungan dari selisih kurs, bukan dari kenaikan harga saham semata.
“Sebetulnya saham kita ini apakah betul sudah ditinggalkan asing? Tidak,” tegas Yanuar.
Berdasarkan kalkulasi agregat selama lima tahun terakhir, Yanuar menyebut asing tercatat melakukan net selling atau jual bersih selama 866 hari bursa, dengan total sekitar 99,79 miliar lembar saham. Namun begitu, ia menekankan bahwa posisi portofolio asing di pasar modal Indonesia saat ini masih menyisakan sekitar 12,97 miliar lembar saham yang belum dilepas.
“Yang ada adalah asing lagi dalam posisi menggoreng saham untuk dapat keuntungan capital gain dengan memanfaatkan momentum pelemahan rupiah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelemahan rupiah tersebut menurutnya bukan semata dinamika pasar, melainkan by design. “Pelemahan rupiahnya pun bukan momentum, memang dibuat melemah,” katanya.
Dari hasil perhitungan selisih harga jual dan beli dalam kurun lima tahun terakhir, Yanuar memperkirakan potensi keuntungan optimum yang diraup asing berkisar antara US$121,18 miliar hingga US$151,45 miliar. Dengan asumsi batas bawah sebagai biaya (cost), ia menghitung net return bersih yang diperoleh asing mencapai sekitar US$30 miliar.
Skema keuntungan ini, jelas Yanuar, berbeda dengan pola investasi berbasis dividen atau dividend yield. Menurutnya, sejak MSCI mengumumkan perubahan strategi rebalancing portofolio dari posisi long ke short pada Februari 2025, banyak manajer investasi besar (hedge fund) yang mengubah orientasi investasinya di saham-saham Indonesia dari aset yang di-hold menjadi aset trading aktif.
“Yang tadinya mengandalkan dividen yield akan berubah menjadi kepada yang namanya capital gain, selisih jual dan beli,” jelasnya.
Yanuar juga mengungkap pola pergerakan asing dalam sebulan terakhir. Meski harga saham sempat terdorong naik mendekati level 7.000, ia menyebut akumulasi net buy asing pada periode tersebut masih lebih rendah dibandingkan net sell-nya.
“Kurang lebih apa yang dilakukan dia sebetulnya dengan net buy sedikit mancing harga ke atas, dengan berbagai macam persepsi untuk memancing daya beli lokal menganggap pemulihan sudah terjadi,” ungkapnya.
Ia mengaitkan pola ini dengan rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kembali membuka keran transaksi margin bagi investor domestik. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi memberi daya beli baru bagi investor lokal untuk menampung saham yang dilepas asing.
“Dalam posisi seperti ini, hati-hati terhadap pancing memancing, karena asing masih pegang barang,” katanya mengingatkan.
Yanuar tidak menampik peluang cuan bagi trader di tengah kondisi pasar saat ini, namun ia mengingatkan risikonya, terutama bagi investor yang mengambil posisi short tanpa memiliki barang atau naked short. Ia menjelaskan risiko gagal serah dapat berujung pada denda dan tindakan cornering di bursa.
“Kalau Anda gagal serah, akan kena denda… kalau di peraturan lama ini 125% dari harga tertinggi di pasar reguler, pasar tunai, pasar segera,” paparnya.
Ia juga menyoroti dinamika di kalangan pelaku bisnis besar domestik atau oligarki yang menurutnya turut mengambil posisi trading (ngepot) di tengah tekanan pasar, sehingga berisiko saling menekan satu sama lain. Kondisi ini, kata Yanuar, dapat berdampak pada investor ritel domestik yang tidak memiliki informasi dan modal setara.
“Sesama oligarki bisa saling pukul, dia ngepot. Dan kemudian yang retail domestiknya bisa ngesot,” ujarnya.
Di akhir paparannya, Yanuar mengimbau masyarakat untuk memahami level risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi. Bagi yang memiliki likuiditas namun ingin bersikap defensif, ia menyarankan strategi hedging melalui dolar AS dan emas. Sementara bagi kalangan menengah ke bawah, ia menekankan peran pemerintah untuk melindungi daya beli masyarakat dari dampak lanjutan gejolak pasar, seperti kenaikan pinjaman daring (pinjol), kartu kredit, dan rasio kredit macet (NPL).
“Untuk masyarakat bawah, maka pemerintah harus bekerja untuk rakyatnya,” pungkas Yanuar.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar