Menu

Mode Gelap
JJ Rizal: Kata “Oknum” Lahir untuk Tutupi Korupsi Tentara Sejak 1957 Ikrar: Militer Indonesia tak Pernah Benar-benar Tunduk pada Otoritas Sipil Prabowo Lantik Enam Pejabat Baru di Istana: Siap Kerja Wujudkan Program Prabowo Ketua AJI: Tentara Jadi Kelompok Kedua Pelaku Kekerasan terhadap Jurnalis Bupati Berau Hamburkan Rp2,3 Miliar untuk Empat Acara Rutin, CBA Minta Kejagung Turun Tangan YLBHI: Peradilan Militer Jadi Mesin Impunitas

SOSDIKBUD

Asal Usul Ular Suci di Tanah Lot

badge-check

INAnews.co.id, Jakarta – Semua orang yang pernah mengunjungi pura Tanah Lot di Tabanan, Bali tentu tak akan asing dengan pemandangan pura di tengah lautan yang didirikan di atas batu karang besar itu.

Pura Tanah Lot terkenal dengan air sucinya. Di tengah pura di atas batu karang itu ada sumber mata air tawar yang muncul dari tengah-tengah lautan.

Air tawar ini dipercaya oleh umat Hindu sebagai air suci pembawa berkah.

Setiap harinya, para warga di sekitar Pura Tanah Lot selalu mengantar hasil bumi dan berdoa di pura serta meminum atau membasuh wajah dengan air suci tersebut.

Ular suci ini ada di Gua yang terletak di seberang pura dan dijaga oleh seorang warga asli sekitar Tanah Lot lengkap dengan sesajen serta dupa di atas liang tempat tinggalnya.

Selain memiliki sarang di dalam Gua, ular suci Tanah Lot juga banyak ditemui di sekitar pura dan di sekitar sumber mata air tawar di tengah batu karang Tanah Lot.

Bagi masyarakat Pulau Dewata, ular yang ada di Pura Luhur Tanah Lot ini sudah tidak asing lagi. Ular dengan warna belang hitam-putih atau poleng tersebut dipercayai sebagai ular suci yang menjaga Pura Luhur Tanah Lot dan biasa disebut Duwe.

Meskipun memiliki bisa mematikan, hingga saat ini Mangku Wati mengatakan jika tidak pernah ada orang yang digigit entah itu dari pawang ataupun wisatawan.

Karena memang ular suci tersebut tidak akan menggigit selama dirinya merasa aman dan nyaman. “Yang saya tahu dan saya dengar selama ini, hingga detik ini tidak pernah ada orang yang digigit oleh ular suci itu, meskipun katanya ular itu sangat berbisa. Siapa pun yang digigit akan menemui ajalnya dengan sekejap,” imbuhnya.

Konon dulu ular suci pernah bertarung dengan seekor musang. Musang tersebut kemudian digigit oleh ular suci dan dalam beberapa saat musang itu pun melepuh. Ditambahkan lagi, karena tidak pernah menggigit orang maka tidak ada seorang pun yang tahu apa obat penawar jika tergigit oleh ular suci tersebut.

Dan sekarang berkurangnya populasi ular suci di Pura Luhur Tanah Lot diyakini karena eksploitasi terhadap ular suci yang dimanfaatkan untuk bisnis, kesucian ular tersebut telah terkikis oleh kepentingan bisnis sehingga kini populasi ular berkurang. Hal ini tentu saja menjadi pro dan kontra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Deadline Fact

    ulernya bisa di makan gak min

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Juga

Aktivis 98 dan Monopoli Moral dalam Demokrasi

12 April 2026 - 22:49 WIB

Menilik Strategi FORSIMEMA-RI dalam Meningkatkan Kesejahteraan Jurnalis

11 April 2026 - 15:43 WIB

Pesan SBY untuk Anak Muda

12 Februari 2026 - 23:29 WIB

Populer SOSDIKBUD