INAnews.co.id, Jakarta- Meski menempati peringkat ketiga dalam Islamic Economy Global Index 2025-2026 di bawah Malaysia dan Arab Saudi, Indonesia seharusnya bisa meraih posisi teratas mengingat potensi pasarnya yang sangat besar. Demikian disampaikan Prof. Nur Hidayah, Kepala CSED INDEF, dalam wawancara eksklusif, Jumat (6/2/2026).
“Dengan pasar domestik kita dan populasi muslim 86 persen atau sekitar 242 juta muslim, ini pasar yang sangat potensial. Tapi ketiadaan satu sistem atau ekosistem yang terhubung menjadi kendala dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi syariah,” ungkap Prof. Nur.
Ia menekankan perlunya Indonesia belajar dari praktik terbaik negara seperti Malaysia yang memiliki political will sangat kuat dalam mengembangkan ekonomi syariah. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia yang bersifat bottom-up perlu diperkuat dengan kebijakan top-down dari pemerintah.
“Perlu ada sinergi antara demand dari masyarakat dengan supply dari pemerintah dan industri. Kolaborasi seperti inilah yang sangat kita butuhkan untuk mengaktualisasi potensi besar kita,” tegasnya.
Prof. Nur menilai bahwa tanpa adanya lembaga yang mengorkestrasi gerakan dari masing-masing institusi terkait, Indonesia akan kesulitan memaksimalkan potensi ekonomi syariahnya untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia.






