INAnews.co.id, Jakarta– Konflik Israel-Amerika Serikat versus Iran yang telah berlangsung lebih dari dua bulan memunculkan tekanan serius terhadap perekonomian Indonesia, mulai dari pembengkakan subsidi energi hingga melemahnya daya beli masyarakat.
Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Rizal Taufikurrahman, mengatakan harga minyak dunia yang kini berada di kisaran 108 dolar AS per barel jauh melampaui asumsi makroekonomi pemerintah. Kondisi ini langsung menekan postur fiskal dan mendorong inflasi di dalam negeri.
“Perang ini punya potensi untuk menekan perolehan atau produk domestik growth kita secara riil, akibat dari tekanan terhadap konsumsinya,” ujar Rizal dalam diskusi publik INDEF, Kamis (30/4/2026).
INDEF memproyeksikan dua skenario dampak. Pada skenario pertama, jika perang berlangsung satu hingga dua bulan dengan Indonesian Crude Price (ICP) di bawah 100 dolar AS per barel, kebutuhan subsidi energi diperkirakan mencapai Rp245 triliun. Pada skenario kedua, jika konflik berlanjut lebih dari satu kuartal dengan ICP di atas 100 dolar AS per barel, beban subsidi bisa melonjak mendekati Rp488 triliun.
Tekanan itu juga merambat ke seluruh sektor ekonomi. Harga pangan, barang, energi, hingga jasa berpotensi naik, yang pada gilirannya memperlambat aktivitas ekonomi domestik sekaligus mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Meski demikian, Rizal mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di atas lima persen secara triwulanan. “Ekonomi relatif stabil, tetapi masih banyak tantangan yang harus dipecahkan sebagai permasalahan bottleneck,” katanya.






