INAnews.co.id, Jakarta– Pendidikan keuangan yang paling efektif tidak selalu datang dari buku teks atau seminar, melainkan dari contoh nyata dalam keluarga. Itulah pelajaran yang dipetik pakar perencanaan keuangan syariah Indra Prakoso dari pengasuhan ibunya di keluarga besar beranggotakan 13 orang.
“Ibu saya tidak pernah ceramah soal keuangan. Tapi setiap gajian, beliau langsung masuk kamar, menghitung uang, dan membaginya ke amplop-amplop bertuliskan pos masing-masing: belanja, jajan, dan lain-lain. Itu nempel sampai sekarang,” kenang Indra dalam wawancara di kanal YouTube INDEF, Jumat (1/5/2026).
Model parenting finansial seperti ini, ujarnya, justru lebih mengakar dibanding kurikulum formal. Ia mendorong agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah mempertimbangkan program literasi keuangan yang menyasar orang tua dan guru, bukan hanya generasi muda secara langsung.
Indra juga mengingatkan jebakan mindset yang berbahaya: menganggap anak sebagai investasi masa depan orang tua, atau sebaliknya menjadikan orang tua sebagai dana darurat anak dewasa. “Anak kita bukan investasi keuangan kita. Tapi kalau investasi doa, itu wajib,” tegasnya. Ia menyerukan agar rantai generasi sandwich diputus mulai dari generasi sekarang.






