Menu

Mode Gelap
Stabilitas Kebijakan Kunci Selamatkan Rupiah Anomali: Rupiah Melemah saat Dolar AS Melemah di Dunia Petani Sawit Buntung Akibat Rupiah Lemah Survei: 56 Persen Rakyat Nilai Ekonomi Sedang Buruk Rupiah Tembus 17 Ribu Lehih Bukan soal Moneter Semata Defisit Kepercayaan, Ujian Terberat Ekonomi Prabowo

KEUANGAN

Anomali: Rupiah Melemah saat Dolar AS Melemah di Dunia

badge-check


					Ruoiah menembus posisi terendahnya sejak krisis moneter silam. (Al Sattar) Perbesar

Ruoiah menembus posisi terendahnya sejak krisis moneter silam. (Al Sattar)

INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti INDEF Tauhid Ahmad mengungkap sebuah anomali yang patut diwaspadai: sejak kuartal ketiga 2025, rupiah terus melemah justru pada saat indeks dolar AS (DXY) berada di bawah 100, kondisi yang semestinya membuat mata uang negara berkembang menguat terhadap dolar.

“Ringgit Malaysia menguat, Singapura menguat, kita justru melemah. Ini bukan ansih kekuatan dolar AS, tapi ada faktor internal yang perlu diperbaiki,” ujar Tauhid dalam forum Indonesia Leaders Talk (ILT), Sabtu (30/5/2026).

Ia menyebut anomali ini sebagai sinyal bahwa masalah bukan semata dari luar, melainkan dari dalam negeri. Salah satu indikatornya adalah kinerja pasar saham: indeks Indonesia per Maret 2026 tercatat negatif 18,49 persen, jauh lebih buruk dibanding Vietnam yang hanya minus 6 persen, sementara Korea, Brasil, Thailand, Turki, dan Singapura justru positif dalam periode global yang sama.

Kondisi diperparah dengan dikeluarkannya 18 emiten Indonesia dari indeks MSCI, yang menandakan penurunan kepercayaan investor asing terhadap tata kelola pasar modal dalam negeri.

Tauhid juga menyoroti risiko fiskal yang mengintai: penerimaan negara pada 2025 meleset 8–9 persen dari target, dan gap tersebut diperkirakan semakin lebar pada 2026. Di sisi lain, subsidi BBM yang dipertahankan di tengah kurs Rp17.500 per dolar berpotensi membengkak ratusan triliun rupiah di atas alokasi APBN awal yang dihitung pada kurs Rp16.500.

“Kalau defisit sampai 2,9 persen, itu akan jauh lebih berisiko di mata investor,” katanya, seraya menyerukan transparansi fiskal kepada publik agar kepercayaan investor dapat pulih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Stabilitas Kebijakan Kunci Selamatkan Rupiah

2 Juni 2026 - 14:57 WIB

Rupiah Tembus 17 Ribu Lehih Bukan soal Moneter Semata

2 Juni 2026 - 06:05 WIB

Penerimaan Pajak April Meningkat, tapi Bersifat Musiman

1 Juni 2026 - 13:49 WIB

Populer EKONOMI