INAnews.co.id, Jakarta- EKonom Ferry Latuhihin menyoroti rendahnya kapasitas sumber daya manusia Indonesia sebagai penghambat utama masuknya investasi asing langsung (FDI), khususnya di sektor berteknologi tinggi seperti kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor. Ia mengutip pengalaman langsung diundang ekonom Kedutaan Besar Amerika Serikat yang menyebut minimnya tenaga kerja terampil membuat investor asing di sektor tersebut memilih relokasi ke Malaysia.
Sebagai perbandingan, Ferry mencatat proporsi mahasiswa yang memilih jurusan STEM di Malaysia mencapai 40–43 persem, Singapura 36 persen, sementara Indonesia hanya 22 persen, bahkan tertinggal dari Vietnam yang tengah menargetkan kenaikan ke 50 persen. Skor PISA Indonesia untuk anak usia 15 tahun juga berada di peringkat 69 dari 81 negara yang disurvei.
Ferry memaparkan empat model pengelolaan talenta yang bisa dijadikan acuan pembangunan bangsa: brain train (Jepang, mengandalkan pendidikan dalam negeri), brain gain (Australia, membuka pintu bagi talenta asing), brain circulation (Tiongkok, mengirim dan menarik pulang lebih dari 9 juta pelajar sejak 1978), dan brain linkage (India, diaspora besar yang tetap terhubung meski tak pulang).
Menurut Ferry, diaspora Indonesia dalam 50 tahun terakhir tak lebih dari 300 ribu orang, jauh di bawah Tiongkok (9 juta) dan India (7 juta) sehingga opsi realistis bagi Indonesia adalah kombinasi brain gain dan brain circulation. “Sumber daya manusia, kita kalah. Sekarang yang kita punya adalah alam. Bagaimana kita memanfaatkannya,” pungkasnya.






