Menu

Mode Gelap
YLBHI: Peradilan Militer Jadi Mesin Impunitas Ketua KontraS: Pengadilan Militer Mengadili Penyiram Air Keras “Sandiwara” Beyond the Meat: Menemukan Esensi Takwa di Balik Distribusi Daging Pembengkakan Biaya Haji Rp1,77 Triliun Ancam Dana Jemaah Ekosistem Haji RI Tertinggal War Tiket Haji Picu Keresahan, 57 Persen Publik Tolak Wacana

SOSIAL

Beyond the Meat: Menemukan Esensi Takwa di Balik Distribusi Daging

badge-check


					Foto: dok. Dompet Dhuafa Perbesar

Foto: dok. Dompet Dhuafa

INAnews.co.id, Jakarta– Ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang bagaimana daging itu menjadi sarana memperluas kebaikan.

Dalam perspektif Al-Qur’an, nilai utama kurban bukan pada dagingnya, melainkan pada ketakwaan yang melandasinya. Karena itu, distribusi daging kurban memiliki dimensi sosial dan spiritual yang sangat dalam. Sejak masa Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, kurban tidak dilepaskan dari semangat berbagi.

Dalam AṣṢaḥīḥain, Anas bin Malik berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa menyembelih hewan Kurban sebelum salat Ied, hendaknya ia mengulanginya kurbannya.”

Seseorang berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ini adalah hari pembagian daging kurban, lalu laki-laki itu menceritakan kesusahan yang di alami tetangganya, seakan-akan dia berharap Nabi Muhammad SAW membenarkan perbuatannya.” Maka Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam memberi keringanan kepadanya.

Hal ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kebutuhan orang lain menjadi bagian penting dalam praktik kurban. Bahkan dijelaskan oleh Ibnu Ḥajar al-`Asqālani bahwa ungkapan tersebut mengisyaratkan adanya kebutuhan nyata dari para tetangga terhadap makanan.

Dalam riwayat lain dari Al-Barā’ bin `Āzib, sahabat Abu Burdah mengatakan, “Aku makan dan memberi makan keluargaku serta tetanggaku.” Ini menjadi gambaran nyata bahwa kurban bukan hanya konsumsi pribadi, tetapi momentum berbagi kebahagiaan dengan lingkungan sekitar.

Lebih jauh, Abu Ayyūb al-Anṣāri menjelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW seseorang berkurban dengan satu kambing untuk dirinya dan keluarganya, lalu mereka makan dan memberi makan orang lain. Tradisi ini begitu sederhana, penuh keikhlasan, dan

sarat nilai kebersamaan, hingga kemudian berubah ketika manusia mulai berbangga-bangga.

Dari sini kita memahami bahwa esensi kurban bukan pada banyaknya hewan atau besarnya distribusi, tetapi pada ruh berbagi dan ketakwaan yang menyertainya. Daging kurban menjadi wasilah untuk: membahagiakan keluarga, menguatkan hubungan dengan tetangga, dan mengangkat beban kaum fakir.

Kurban mengajarkan bahwa rezeki tidak untuk dinikmati sendiri. Ia harus mengalir. Ketika daging dibagikan, yang sebenarnya tersebar bukan hanya makanan, tetapi juga kasih sayang, empati, dan persaudaraan.

Beyond the meat, qurban adalah tentang menghadirkan takwa dalam bentuk nyata: berbagi, peduli, dan menyatukan hati manusia.*

*KH Bachtiar Nasir

Pembina AQL Qurban Care

Sumber: Al-Mufaṣṣal fī Aḥkām al-Uḍḥiyah

Foto: dok. AQL

AQL Qurban Care: Kurban Terbaik, Manfaat Terluas

Tunaikan kurban Anda bersama AQL Qurban Care: amanah, tepat sasaran, dan penuh keberkahan

WA: 0857 1873 5254

IG: @aql.qurbancare

www.qurbancare.org 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

The Ibrahim Method: Seni Melepaskan Sesuatu yang Paling Kita Sayangi

25 April 2026 - 19:11 WIB

Qurban Vibes: Lebih dari Sekadar Ritual, Ini Soal Totalitas Cinta

24 April 2026 - 19:37 WIB

Aktivis 98 dan Monopoli Moral dalam Demokrasi

12 April 2026 - 22:49 WIB

Populer SOSDIKBUD