Menu

Mode Gelap
Wamen LHK Ungkap Kesenjangan Pendanaan Iklim Keberhasilan Pasar Karbon tak Hanya Tergantung Regulasi, tapi Kolaborasi Pemangku Kepentingan Indonesia Amankan Pasokan Minyak Mentah dari Rusia hingga Akhir Tahun Polri Umumkan Rekrutmen Akpol 2026 Bebas Titipan, Mahfud: Buah Reformasi Ketimpangan Picu Penjarahan, Bukan Sekadar Isu Ekonomi Potensi Asian Tenggara Jadi Kekuatan Penanganan Perubahan Iklim Global

ENERGI

Indonesia Amankan Pasokan Minyak Mentah dari Rusia hingga Akhir Tahun

badge-check


					Foto: dok. BPMI Setpres Perbesar

Foto: dok. BPMI Setpres

INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia berhasil mengamankan pasokan minyak mentah (crude oil) dari Rusia untuk periode hingga Desember 2025, menyusul kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow dan Paris dalam rangkaian diplomasi energi dengan dua negara pemegang hak veto Dewan Keamanan PBB.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan hal tersebut usai melaporkan hasil kunjungannya kepada Presiden Prabowo, Kamis (16/4/2025). Bahlil ditugaskan khusus oleh Presiden untuk menemui utusan Presiden Vladimir Putin sekaligus Menteri Energi Rusia guna menindaklanjuti kesepakatan kedua kepala negara.

“Insyaallah untuk crude-nya saya pikir sudah hampir final. Dari bulan ini sampai Desember insyaallah sudah aman,” ujar Bahlil.

Langkah ini didorong oleh besarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Konsumsi BBM nasional mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara lifting minyak dalam negeri hanya berkisar 600.000–610.000 barel per hari. Artinya, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel per hari, atau total kebutuhan crude sekitar 300 juta barel per tahun.

Selain crude oil, pemerintah juga menjajaki pasokan LPG dari Rusia. Indonesia saat ini mengimpor sekitar 7 juta ton LPG per tahun. Namun Bahlil mengakui, kesepakatan LPG masih memerlukan dua hingga tiga putaran negosiasi lanjutan.

Dalam pembicaraan dengan pihak Rusia, turut dibahas rencana pembangunan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan (storage) di Indonesia. Bahlil menyebut sejumlah investor Rusia telah menyatakan kesiapan masuk, meski finalisasi nilai investasi dan skala proyek masih dalam pembahasan.

“Satu dua putaran lagi baru kami sampaikan, termasuk nilai investasinya,” kata Bahlil. Kerja sama ini akan dijalankan melalui mekanisme G2G (government-to-government) maupun B2B (business-to-business) dalam skema jangka panjang.

Merespons kekhawatiran soal dampak kerja sama dengan Rusia terhadap hubungan Indonesia–Amerika Serikat, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia menganut prinsip politik dan ekonomi bebas aktif.

“Kita boleh belanja di mana saja, selama kita komitmen dengan negara-negara yang telah kita ajak kerja sama, termasuk Rusia, Afrika, Nigeria, dan juga Amerika,” tegasnya.

Bahlil juga memastikan stok BBM nasional, solar, bensin, maupun LPG, berada di atas standar minimum dan aman untuk kebutuhan masyarakat. Pemerintah pun berkomitmen tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun, bahkan berharap kebijakan itu bisa dipertahankan selama mungkin.

Keyakinan ini didasarkan pada harga rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) Januari hingga kini yang tidak melampaui 77 dolar AS per barel—masih jauh di bawah asumsi APBN sebesar 100 dolar AS per barel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Wamen LHK Ungkap Kesenjangan Pendanaan Iklim

17 April 2026 - 20:24 WIB

Keberhasilan Pasar Karbon tak Hanya Tergantung Regulasi, tapi Kolaborasi Pemangku Kepentingan

17 April 2026 - 17:21 WIB

Polri Umumkan Rekrutmen Akpol 2026 Bebas Titipan, Mahfud: Buah Reformasi

17 April 2026 - 12:40 WIB

Populer NASIONAL