INAnews.co.id, Jakarta– Fadhila Maulida (Peneliti Center of Digital Economy and SME) mengungkapkan temuan mengejutkan dalam diskusi bertema “Menakar Inklusivitas Ekonomi Digital bagi Perempuan Indonesia” yang digelar INDEF, Selasa (21/4/2026). Perempuan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) terbukti lima kali lebih responsif terhadap akses digital dibandingkan perempuan di wilayah non-3T.
“Respon mereka ketika ada akses digital itu lebih responsif lima kali lipat dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang di non-3T,” ujar Fadhila.
Temuan ini dinilai paradoks. Meski potensi ekonominya sangat besar, perempuan di wilayah 3T justru paling sedikit mendapat akses internet. Data INDEF menunjukkan ketersediaan infrastruktur digital di daerah non-3T mencapai 35,8 persen, sedangkan di daerah 3T hanya 9,3 persen. Akibatnya, hanya sekitar 9 persen perempuan pekerja di wilayah 3T yang memanfaatkan internet dalam pekerjaannya, jauh di bawah angka 50 persen lebih di wilayah non-3T.
INDEF menilai ketimpangan ini menjadi pemborosan potensi ekonomi yang nyata. Perempuan di 3T, yang produknya kerap memiliki kualitas tinggi seperti batik tulis dan tenun, tidak mampu menjangkau pasar yang lebih luas semata-mata karena minimnya akses digital.






