INAnews.co.id, Jakarta– Data media sosial berbicara keras: dari sekitar 12.000 perbincangan daring terkait pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 yang dikumpulkan sepanjang 2—7 Mei 2026, sebanyak 94,6 persen mengandung sentimen negatif atau netral. Publik meragukan klaim pertumbuhan 5,61 persen karena tidak merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Data Scientist Pandatum INDEF, Wahyu Utomo, memaparkan temuan analisis big data berbasis platform X (Twitter) dan Threads tersebut dalam diskusi publik INDEF, Senin (11/5/2026). “Ada skeptisisme luas. Publik mempertanyakan: kalau pertumbuhannya setinggi itu, kenapa lapangan kerja masih susah dan harga-harga makin mahal?” ujarnya.
Lima topik dominan yang melingkupi perbincangan adalah: tingginya belanja pemerintah yang dianggap mendistorsi angka pertumbuhan (“pertumbuhan infus”), pelemahan rupiah hingga Rp17.400 per dolar AS yang kontras dengan klaim ekonomi sehat, capital outflow investor asing sekitar 1,7 miliar dolar AS, gelombang PHK dan sulitnya mencari pekerjaan formal, serta fenomena “makan tabungan”, di mana masyarakat terpaksa menguras simpanan untuk memenuhi kebutuhan pokok akibat inflasi dan rupiah yang melemah.
Wahyu menekankan bahwa sentimen publik ini bukan sekadar keluhan, melainkan cerminan harapan masyarakat akar rumput agar pertumbuhan ekonomi benar-benar terasa dalam kehidupan nyata: lapangan kerja yang lebih luas dan harga yang lebih terjangkau. Ia mendorong pemerintah menjadikan suara publik digital ini sebagai indikator pelengkap dalam mengevaluasi kualitas pertumbuhan, bukan hanya mengandalkan data statistik agregat.






