Menu

Mode Gelap
Pajak 2 Persen Konglomerat Bisa Gratiskan KRL 8 Tahun Presiden Tambah Anggaran Rp1 Triliun untuk UMKM 33 Tahun Berkarya, Band TENGKORAK Gambarkan Kekejaman Israel atas Palestina Lewat Lagu “Zionist Downfall” 94 Persen Respons Publik soal Ekonomi Bernada Skeptis Defisit Fiskal Menganga, Kas Negara Menipis di Awal Tahun Ekonomi Indonesia Berlari Kencang, tapi Staminanya Diragukan

EKONOMI

Ekonomi Indonesia Berlari Kencang, tapi Staminanya Diragukan

badge-check


					Foto: Akhmad Syakir Kurnia/tangkapan layar Perbesar

Foto: Akhmad Syakir Kurnia/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada triwulan I 2026 mengejutkan banyak pihak, termasuk kalangan akademisi. Namun di balik angka yang mengesankan itu, pertanyaan yang lebih penting justru muncul: seberapa lama Indonesia mampu mempertahankan kecepatan laju tersebut?

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Prof. Akhmad Syakir Kurnia, menganalogikan kondisi ini dengan seorang pelari yang dipacu berlari kencang melampaui kapasitas alaminya. “Seperti pelari yang kehabisan nafas di tengah jalan, pertumbuhan yang melampaui stamina produktif jangka panjang berpotensi berakhir dengan koreksi yang dalam,” katanya dalam diskusi publik INDEF, Senin (11/5/2026).

Ia mengacu pada pengalaman Indonesia di awal 1990-an, ketika ekonomi tumbuh 7—9 persen lalu kolaps ke -13,8 persen pada 1998. Menurut Syakir, pertumbuhan yang sehat harus ditopang oleh empat fondasi: kapasitas produktif sektor swasta, kualitas sumber daya manusia, efisiensi investasi, serta kepercayaan pasar dan kelembagaan.

Pada semua dimensi itu, Indonesia masih tertinggal. ICOR Indonesia mencapai 6,5, jauh di atas Vietnam (4,6), Thailand (4,4), dan Malaysia (4,5), mencerminkan inefisiensi investasi yang akut. Human Capital Index Indonesia hanya 0,57, lebih rendah dari negara-negara tetangga, sementara skor tes harmonisasi pendidikan anak-anak terus menurun. Lembaga pemeringkat Fitch dan Moody’s pun telah mengubah outlook ekonomi Indonesia menjadi negatif sejak awal 2026, dengan alasan utama lemahnya prediktabilitas kebijakan dan tekanan fiskal, termasuk kekhawatiran atas Danantara.

Syakir menegaskan bahwa stimulus fiskal tidak bisa menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang, dan program seperti MBG berisiko menimbulkan efek crowding out terhadap sektor swasta jika tidak dirancang secara hati-hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

94 Persen Respons Publik soal Ekonomi Bernada Skeptis

13 Mei 2026 - 11:52 WIB

Daulat Energi Dorong Percepatan Kompor Induksi untuk Serap Surplus Listrik Nasional

12 Mei 2026 - 19:39 WIB

Pertumbuhan 5,61 Persen tapi Rakyat tak Merasakannya

12 Mei 2026 - 14:33 WIB

Populer EKONOMI