INAnews.co.id, Jakarta– Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada triwulan I 2026 mengejutkan banyak pihak, termasuk kalangan akademisi. Namun di balik angka yang mengesankan itu, pertanyaan yang lebih penting justru muncul: seberapa lama Indonesia mampu mempertahankan kecepatan laju tersebut?
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Prof. Akhmad Syakir Kurnia, menganalogikan kondisi ini dengan seorang pelari yang dipacu berlari kencang melampaui kapasitas alaminya. “Seperti pelari yang kehabisan nafas di tengah jalan, pertumbuhan yang melampaui stamina produktif jangka panjang berpotensi berakhir dengan koreksi yang dalam,” katanya dalam diskusi publik INDEF, Senin (11/5/2026).
Ia mengacu pada pengalaman Indonesia di awal 1990-an, ketika ekonomi tumbuh 7—9 persen lalu kolaps ke -13,8 persen pada 1998. Menurut Syakir, pertumbuhan yang sehat harus ditopang oleh empat fondasi: kapasitas produktif sektor swasta, kualitas sumber daya manusia, efisiensi investasi, serta kepercayaan pasar dan kelembagaan.
Pada semua dimensi itu, Indonesia masih tertinggal. ICOR Indonesia mencapai 6,5, jauh di atas Vietnam (4,6), Thailand (4,4), dan Malaysia (4,5), mencerminkan inefisiensi investasi yang akut. Human Capital Index Indonesia hanya 0,57, lebih rendah dari negara-negara tetangga, sementara skor tes harmonisasi pendidikan anak-anak terus menurun. Lembaga pemeringkat Fitch dan Moody’s pun telah mengubah outlook ekonomi Indonesia menjadi negatif sejak awal 2026, dengan alasan utama lemahnya prediktabilitas kebijakan dan tekanan fiskal, termasuk kekhawatiran atas Danantara.
Syakir menegaskan bahwa stimulus fiskal tidak bisa menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang, dan program seperti MBG berisiko menimbulkan efek crowding out terhadap sektor swasta jika tidak dirancang secara hati-hati.






