INAnews.co.id, Jakarta– Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menegaskan penggunaan istilah “antek asing” oleh Presiden Prabowo dan jajaran pemerintahannya bukan hal baru.
Menurutnya, pelabelan semacam itu merupakan bagian dari authoritarian playbook, resep baku yang digunakan penguasa otoriter di berbagai negara untuk mendelegitimasi para pengkritik.
“Ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di banyak negara lain. Label seperti foreign agents atau antek asing sengaja dibuat supaya orang yang mengkritik kehilangan legitimasinya,” ujar Bivitri dalam kanal YouTube-nya, Jumat (8/5/2026).
Ia membedakan antara otokrat dan penguasa otoriter. Otokrat sekadar tidak diawasi, sedangkan penguasa otoriter secara aktif menyerang para pengkritik.






