Menu

Mode Gelap
Kritik Pemerintah Bukan Berarti Benci Negara Membantah OMS tak Transparan Meluruskan soal Dana Asing ke Masyarakat Sipil Harus Lewat Pemerintah Bivitri: “Antek Asing” Senjata Klasik Penguasa Otoriter Sudirman Said: Ekonomi Tertekan karena Defisit Moralitas Indonesia Bisa Monetisasi Komunalisme, tak Perlu Tiru Korea

EKONOMI

Sudirman Said: Ekonomi Tertekan karena Defisit Moralitas

badge-check


					Foto: Sudirman Said/tangkapan layar Perbesar

Foto: Sudirman Said/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menyebut tekanan ekonomi yang tengah dialami Indonesia bukan semata soal angka, melainkan cermin dari krisis moralitas kepemimpinan dan memudarnya spiritualitas dalam tata kelola negara. Hal itu ia sampaikan melalui kanal YouTube-nya, Kamis (7/5/2026).

“Yang hilang, yang sedang mengalami defisit, adalah hadirnya moralitas dalam kepemimpinan dan hadirnya spiritualitas dalam cara mengurus negara,” ujar Sudirman.

Ia memaparkan sejumlah indikator ekonomi yang tengah tertekan: pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, penurunan investasi riil yang berdampak pada pembukaan lapangan kerja, serta tekanan pada indeks harga saham. Kondisi itu, menurutnya, juga diperkuat oleh penilaian lembaga-lembaga think tank ekonomi-politik dalam negeri maupun lembaga rating internasional.

Sudirman menunjuk sejumlah perilaku elite sebagai akar masalah: hukum yang diubah sesuai kepentingan subjektif pembuat kebijakan, praktik nepotisme dan kronisme yang terang-terangan, korupsi yang makin brutal, serta pamer kemewahan tanpa jeda di tengah kesulitan rakyat. “Seperti sirkus keliling hedonisme yang tidak mengenal malu,” tegasnya.

Ia juga menyoroti gejala bahwa kekuasaan yang semestinya milik publik diperlakukan sebagai aset pribadi. Padahal, kata Sudirman, rakyatlah tuan sejati para penyelenggara negara karena merekalah pembayar pajak.

“Mana ada orang yang punya uang percaya pada entitas yang diurus dengan sembarangan,” ujarnya, menjelaskan mengapa investor dan pasar kehilangan kepercayaan.

Sudirman menyebut kondisi ini sebagai declining credibility, kredibilitas yang menurun, dan menegaskan bahwa kredibilitas tidak mungkin dibangun tanpa integritas, kompetensi, dan moralitas.

Ia mengakhiri pernyataannya dengan harapan agar tekanan ekonomi yang ada dijadikan alarm untuk berbenah dan kembali pada norma-norma tertinggi dalam bernegara. Ia mengutip pandangan seorang tokoh agama terkemuka dari Indonesia Timur: bangsa ini sejatinya baik-baik saja, tetapi bisa jauh lebih baik. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Korsel Ubah Kesepian Jadi Mesin Ekonomi

7 Mei 2026 - 19:45 WIB

OJK: IHSG Sudah Bergerak sesuai Fundamental

6 Mei 2026 - 10:13 WIB

Ekonomi Akselerasi, Menkeu: Jangan Takut!

6 Mei 2026 - 09:11 WIB

Populer EKONOMI